Saturday, 1 June 2013

Janda Lesbian

Cerita Lucah Lesbian - Sejujurnya aku malu menceritakan cerita panas ini, sebuah kisah nyata hubungan sesama jenis (lesbian) yang sampai sekarang masih sering kulakukan. Namun karena dorongan untuk melepas beban dihati, kuberanikan diri untuk menceritakan kisah lesbianku disitus ini… Sebelumnya perkenalkan pembaca, aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan status janda. Kehidupanku cukup baik, karena peninggalan deposito dari suami dan kadang2 ada bisnis jual beli perhiasan dengan teman. Anak aku ada 2 orang dan mereka semua sekolah di Jogya, karena dekat dengan kakek neneknya. Dirumah aku cuma ditemani oleh Surti (pembantu) dan Remi, anjing herder peninggalan suami juga.

Suatu hari teman jual beli perhiasan aku yang bernama Tina datang kerumah. Teman bisnis aku banyak, dengan Tina aku baru kenal kira2 1 bulan yang lalu. Usia wanita itu sama dengan aku dan punya anak satu, wajahnya cukup cantik ditambah dengan make up yang pandai, dan Tina tahu cara merawat tubuh dengan baik, aku mendengar dari teman2 bahwa dia sangat pandai dalam berbisnis perhiasan, apalagi ditambah kepandaiannya berbicara merayu pembeli. Tina datang kerumahku hari itu untuk menitipkan perhiasan yang hendak dijual, biasanya kami suka bertemu direstoran padang langganannya, tumben hari ini dia datang mengunjungiku.

“Halooo Rin…….apa khabar nih???” aku tersenyum senang sambil membalas salam Tina.”Tumben, kok bisa nyasar kesini Tin?””Kangen aku tidak ketemu kamu 2 minggu””Ahhhh….bisa aja….ayo masuk, maaf ya rumah aku berantakan dan kecil” aku mempersilahkan Tina masuk keruang tamu.”Ah rumah kamu bagus kok, dilingkungan elite lagi” Komentar Tina sambil duduk disofa.”Seperti yg tadi kukatakan di telepon, aku ingin menitipkan perhiasan ini untuk kamu jualin, soalnya lusa aku akan keluar kota dengan suamiku” Kulihat Tina mengeluarkan kantong beludru hitam dari dalam tasnya.”Lebih baik dikamar saja Tin, soalnya si Surti ada di dapur” Ajak aku. aku selalu berhati2 dalam berbisnis di bidang ini. Tina mengikuti masuk kekamar aku. Lalu kami duduk diatas ranjang dan Tina mengeluarkan semua isi kantung beludru itu. Perhiasan bertahtakan berlian terpampang diatas ranjang, berkilauan. aku kuatir juga melihat perhiasan banyak begitu, aku mengambil salah satu kalung yang paling indah.

“Waah indah sekali kalung ini” Kataku, lalu aku mencoba memasangnya dileherku.”Sini aku bantu” Tina beranjak kebelakangku, lalu tangannya berusaha mengaitkan kunci kalung itu.”Leher kamu bagus sekali Rin” Ujar Tina, kurasakan leherku dibelainya, bulu romaku jadi berdiri, perasaanku jadi nggak enak. Lalu tangan Tina membelai pipiku, sementara tangannya yang lain menelusuri leherku terus merayap menuju dadaku.
“Tin….jangan gitu ah…..aku jadi geli nih” Tapi Tina tidak menjawab. Tiba2 aku merasakan pipi kiriku panas, aku menoleh, belum sempat aku sadar apa yang membuat panas pipiku, bibir Tina sudah menyambar bibirku. Aku gelagapan dan aku berontak berusaha menghindar, tapi Tina seperti kesetanan, ia terus menekan mulutnya ke mulutku. Dan kurasakan buah dadaku diremas olehnya. Aku benar2 terkejut sekali dengan perlakuan seperti itu, aku mencoba mendorongnya, tapi tubuhnya sudah menindih tubuhku. Aku menendang dan Tina melepaskan pelukannya. Aku berusaha membetulkan letak buah dadaku yang tadi sampai keluar dari BH. Tina memandangku dengan mata yang redup.

“Sori Rin…..sejak kenal denganmu aku merasa kamu sangat merangsang sekali” Aku terdiam sambil menahan amarah.”Kok kamu gitu sih? Kan kamu sudah punya suami??? Teganya kamu….” Sergahku sambil memelototinya. Tina memandangku dengan pandangan yang makin redup.”Aku lebih bernafsu dengan wanita sepertimu, lagi pula suamiku tidak pernah bisa memuaskanku, belum apa2 sudah loyo sehingga selama perkawinan aku belum pernah merasakan kepuasan””Tapi dengan modal kecantikanmu kan kamu bisa cari laki2 lain utk memuaskanmu!””Aku tidak merasakan kenikmatan seperti kalau dengan wanita, aku ingin kamu juga mencoba merasakannya Rin” Jawab Tina sambil mendekatiku. Aku beringsut mundur kekepala ranjang.”

Tapi aku tidak pernah lesbian begitu” Hatiku berdebar2 memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi bila Tina menyergapku seperti tadi.”Jangan takut Rin, aku tidak akan memaksamu, cuma aku ingin kamu mengijinkanku menciummu sekali saja, tolonglah…..” Hatiku makin tak keruan, sudah lama sekali aku tidak pernah dijamah oleh laki2 apalagi perempuan. Mendengar kata cium saja, aku sudah merasa tidak keruan. Lagi pula apa salahnya dicium Tina, apalagi mulutnya tidak bau. Aku tahu hati kecilku bersikap pasrah.”Baiklah…..tapi sekali saja, dan jangan macam2 ya” Jawabku. Tina lalu mendekatiku lalu tangannya merangkul leherku, lalu bibirnya mencium mulutku dengan lembut, perasaanku tak keruan merasakan ciuman itu, aku memberanikan diri membalas ciumanya. Lalu kurasakan lidah Tina menjalar masuk kedalam mulutku mencari2 lidahku. Yang kurasakan kemudian adalah perasaan aneh dan gamang yang tidak dapat dilukiskan. Kurasakan hembusan napas Tina yang panas dipipiku dan lumatan mulutnya yang begitu merangsang birahi.

Hampir 3 menit kami berciuman dan aku tahu kemaluanku sudah basah karena nafsu. Sekarang aku benar2 pasrah waktu Tina menjilati leherku dengan lembut, tangannya melepaskan tali daster dipundakku, lalu dengan lembut buah dadaku yang masih tertuutp bh diremas2.”Tiin…..jangan ah….malu Tin” Aku berusaha mencegah setengah hati. Dan Tina tahu aku tidak benar2 ingin menghentikan aktivitasnya.Aku merasakan tangan kirinya masuk kedalam celana dalamku, dan jari2nya memainkan klitorisku, kadang2 dicubit2 kecil, benar2 sensasi yang hebat sekali. 

Tanpa kusadari aku juga sedang meremas2 pantat Tina. Tubuhnya menindih tubuhku dan kurasakan buah dadanya yang berukuran sedang menekan buah dadaku yang memang dari dulu tergolong besar. Tiba2 aku baru sadar Tina sudah setengah telanjang, cuma memakai cd saja, sedangkan aku benar2 bugil total. Tubuh Tina berbau harum, entah parfum apa yang dipakainya, tapi wangi tubuhnya menambah getaran berahiku. Tanganku menjalar melepaskan celana dalamnya, lalu kulihat sekilas kemaluannya berkilat tanpa sehelai bulu, rupanya bulunya dicukur rutin. Jari2ku masuk kedalam lubang kemaluannya lalu kutusuk2 dengan lembut. Tina merintih keenakan, tangannya makin dalam beroperasi dilubang kemaluanku. Aku juga merintih keenakan. 

Aku tidak tahu ternyata wanita dengan wanita dapat saling memuaskan dalam urusan sex.
Sekarang Tina sedang menghisap puting buah dadaku, sementara tangannya yang lain terus bermain di klitorisku. Aku merasakan Tina mulai menciumi perutku, lalu memainkan lidahnya di pusarku, aku kegelian, tak lama kemudian lidahnya sudah menjilati kemaluanku.”Tin jangan disitu ah……kan jorok” Bisikku sambil berusaha mendorong kepalanya. Tapi Tina malah makin merenggangkan pahaku dan klitorisku dhisap2 olehnya, kadang2 lidahnya masuk keluar dalam lubang kemaluanku. Aku sudah tak dapat berpikir sehat lagi, yang kurasakan cuma kenikmatan yang tiada taranya. Tahu2 didepan wajahku sudah ada kemaluan Tina, kedua lututnya ada dikiri kanan kepalaku. Tina tidak menurunkan pinggulnya, jadi aku dapat dengan jelas melihat kemaluanya yang botak. 

Bibir kemaluannya berwarna merah kehitaman dan kulihat klitorisnya cukup besar menonjol bertengger diatas bibir kemaluannya. Aku menyibak bibir kemaluan Tina, dan kulihat kemaluannya basah sekali oleh lendir yang bening, aku lalu menusuk2 kemaluan itu dengan telunjuk, jari tengah dan jari manisku, kadang2 dengan kelingking juga. Lubang kemaluan Tina sudah agak kendur, mungkin punyaku juga sama. Aku ragu2 mejilat kemaluannya, soalnya aku belum pernah menjilat kemaluan sesama wanita. Tina terus mengeluar masukkan lidahnya dilubang kemaluanku, aku sudah tak tahan lagi.

“Tin….aku hendak keluarrrr…..” Tubuhku bergetar hebat, kurasakan lidah Tina masuk makin dalam kedalam kemaluanku, dan aku merasakan orgasme yang hebat sekali. Sepertinya ini yang paling enak semenjak aku menikah. Tina masih terus menjilati lendirku, aku juga tak perduli lagi, kuraih pinggul Tina lalu ketarik sampai wajahku terbenam disela2 pahanya. Tercium bau yang sama dengan bau kemaluanku. Kujilat2 klitorisnya lalu kumasukkan juga lidahku kedalam lubang kemaluannya, kurasakan lendir asin masuk kedalam mulutku. Aku tidak perduli lagi. Lalu kurasakan ada yang geli di lubang pantatku.

“Aduh Tin jangan disitu dong…..jorok kan?” Kurasakan lubang pantatku berkerut ketika lidah Tina berusaha menerobos masuk. Kemudian aku tak perduli juga, karena aku merasakan kenikmatan yang sama, aku juga melakukan hal yang sama dengan Tina. Kutusuk2 lubang pantatnya dengan lidahku, lubang yang kehitam2an itu jadi becek oleh air liurku dan lendir kemaluannya. Tiba2 Tina seperti tersentak lalu beku…….mulutnya mengeluarkan jeritan kecil, lalu kurasakan ia menekan lubang memiawnya makin dalam kewajahku dan menggoyang2kan pinggulnya sehingga hampir seluruh wajahku tersapu oleh kemaluannya.

“Aduuuuh riiin…..enak sekaliii….” Ia memeluk erat2 pinggulku, klitorisku digigit2 kecil olehnya. Tak lama kemudian tubuhnya melemas lalu betul2 lemas sehingga aku tidak bisa bernapas karena tekanan kemaluannya diwajahku. Keringatnya bergulir turun masuk kedalam mulutku. Aku juga benar2 puas sekali.
Kemudian Tina bangun lalu mencium mulutku, kami kembali bergelut sambil mendesah2. Tina menempelkan kemaluannya pada kemaluanku, lalu menggosok2nya. Kira2 15 menit kami berciuman sambil berpelukan erat sampai aku tak merasa kalau aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, samar2 aku seperti mendengar suara Remi. Aku membuka mataku dan……astaga!!! Kulihat Tina sedang bergelut dengan Remi dilantai kamarku yang beralaskan karpet biru. Kulihat Tina sedang menjilat2 kemaluan Remi yang sudah keluar dan berwarna merah sekali. Mulut Tina berlumuran cairan yang keluar terus dari kemaluan anjing itu, dan anjing itu bersuara kecil sepertinya keenakan kemaluannya dihisap oleh Tina. Kemaluan Remi cukup besar, mungkin karena anjing herder dan cairan seperti lendir itu terus keluar menetes netes, dan Tina mencerucup cairan itu……

“Tin!! Gila kamu……kok sama Remi sih???” Aku memberondong Tina. Tapi lagi2 Tina tidak menjawab, yang kulihat kemudian ia berusaha menuntun kemaluan Remi memasuki kemaluannya. Dan Kudengar rintihan Tina ketika kemaluan yang cukup besar itu masuk kedalam lubang kemaluannya. Kulihat Remi menggerakkan bokongnya dengan amat cepat, lalu tidak berapa lama kemudian terdengar Remi mendeking halus lalu dari sela2 kemaluan Tina kulihat cairan merembes keluar banyak sekali, seperti air kencing tapi juga seperti lendir yang encer. Kulihat Tina mengerang2 lalu tangannya meraih kemaluan Remi dan dimasuk keluarkan sendiri olehnya. Melihat pemadangan itu tubuhku kembali bergidik, ada perasaan aneh merayap kedalam jiwaku. Aku tahu bahwa aku terangsang oleh aksi Tina. Tanpa sadar aku juga turun kelantai dan kepalaku mengarah menuju selangkangan Tina. Kulihat dari dekat kemaluan Remi masih digerak2an Tina keluar masuk dalam kemaluannya, dan dari kemaluan hewan itu masih terus menetes lendir, sedangkan kemaluan Tina kulihat sudah merah sekali, juga kulihat lendir Remi memenuhi kemaluan Tina.

“Rin….dijilat Rin….tolonglah Rin” Rintihan Tina makin merangsang nafsuku. Seperti ada yang mendorong, kepalaku segera menyusup keselangkangan Tina. Pelan2 kujilat kemaluan Tina yang sangat banjir itu. Aku merasa cairan kemaluan Remi terasa asin sekali, tapi baunya tidak menyengat. Seperti kesetanan aku menghirup dan mencelucupi kemaluan Tina. Persis seperti Remi jika sedang minum air. Lidahku menguak bibir kemaluan Tina, lalu masuk menjelajahi seluruh dinding vaginanya.
“Riiiiiiinnnnnn……….” Tina merengek hebat,pinggulnya terangkat menekan mulutku. Aku tak perduli lagi. Kemudian aku berpindah menghisap kemaluan Remi, kumasukkan seluruh kemaluannya kedalam mulutku. Penis Remi terasa panas dalam mulutku dan aku mencium bau hewan itu, tapi pikiranku sudah gelap yang ada hanya nafsu yang selama ini terkubur dalam2 dan kini meledak tak terbendung.Aku tahu aku bakalan menyesali perbuatanku setelah ini.

Aku terus menjilat dan mengulum penis Remi. Anjing itu mendeking2 pelan, kadang2 berusaha menghindar, tapi Tina memegang kedua kakinya dengan erat. Tak lama kemudian dari penis Remi menyembur cairan panas kedalam mulutku. Kumasukkan seluruh penis Remi lalu kusedot2, anjing itu mencoba memberontak, entah kenikmatan atau kegelian. Tina memajukan wajahnya lalu kami saling berciuman, kukeluarkan sebagian cairan Remi kedalam mulutnya. Wajah kami sudah basah oleh cairan encer itu.

Sekarang aku berbaring dibawah Remi, kemudian Tina mulai menghisap kemaluan Remi agar nafsu Remi kembali. Setelah itu Tina mencoba memasukkan penis Remi kedalam vaginaku. Ternyata penis itu kebesaran untuk lubang vaginaku. Mungkin lubang vaginaku menciut sepeninggal suamiku yang meninggal 4 tahun yang lalu. Kepala penis Remi yang meruncing itu masuk sedikit, tiba2 Remi mendorong keras sambil menusuk2 cepat sekali. Aku merasa agak perih, tapi kemudian kurasakan kenikmatan yang tak terbayangkan, lubang vaginaku seperti ditusuk oleh mesin penggerak yang amat cepat. Aku tak tahu bagaimana melukiskannya sampai aku mencapai orgasme yang sangat hebat. Seluruh rambut ditubuhku seperti berdiri tegak membuatku merinding. 

Tak lama kemudian aku merasakan cairan panas menyemprot dalam vaginaku, aku berusaha mengeluarkan penis Remi, tapi hewan itu seperti tak perduli, aku pasrah membiarkan seluruh cairannya keluar dalam vaginaku. Kemudian Tina menyuruhku jongkok diatas wajahnya. Tina melumat vaginaku dengan penuh nafsu, kulihat dari vaginaku mengalir cairan Remi yang tersisa, mengalir seperti air kencing masuk dalam mulut Tina. Akupun tidak mau ketinggalan, kulumat juga vagina Tina yang sekarang sudah agak lembab dan lengket.

Hari itu aku dan Tina bersetubuh 3 kali, pagi, siang dan malam hari. Aku tak mengerti lagi apakah aku ini normal atau tidak. Yang pasti kebutuhan yang selama ini tak tersalurkan, kini menemukan muaranya. Aku sangat menyesal dengan perbuatanku yang mungkin bertentangan dengan agama yang kuanut, tapi aku terus menerus melakukannya dengan Tina. Seolah2 kami sudah tak terpisahkan. Tina selalu mempunyai ide2 yang baru dalam setiap permainan kami. Aku juga tak tahu apakah aku harus berterima kasih padanya atau mengutuknya. Dan belakangan hingga cerita dewasa ini kutulis, Tina mengaku bahwa hampir semua ibu2 yang kukenal pernah diajak lesbi olehnya.

Gian Batang Askar

Tujuan saya menulis kali ni bukan lah nak cerite pasal budak urut. Ni nak konsi cerite satu lagi species jantan yang buat saya turn on bile tengok ide orang iaitu abang-abang kite, abang-abang polis kita atau abang-banag tentera laut kita.

Saya pun hairan jugak selain daripada lelaki yang gelap mereka yang beruniform kemas ni jugak boleh buat saya naik nafsu untuk buat hubungan sex dengan mereka walaupun tau mereka tak kan nak pakai uniform nak jumope kita ya tak. Tapi at least die orang nye profession macam tu memang saye teringin nak buat hubiungan sex ngan merea.

So di pendek kan cerita saya selalu gak masuk sms chat celcom channel gay3 kat situ. satu sms 5 sen ok lah jugak. So dalam tu dapat lah rami no talipon daripada budak umo 17 tahun sehingga bapak umur 50 tahun. Ade pelbagai bangsa dan pekerjaan. SO salah seorang die yang chat ngan saya ni ialah umo dalam akhir 20an dah pun kawin. Masa chat tu memang lag saya bagi tau ni saya jenis yang suka lelaki jugak walau pun dah kawin. Dia kata dis ni tak de lah jenis suke lelaki tapi kalau ada lelaki nak isap batang die and nak bagi die jubo untuk di cucok di kate no problem . Die on je.

Mule2 die ni dari kem di kedah and of course jauh lah dar pada bandar tempat saye tinggal.
so selalu berhubungan melaui sms sahaje/. Lame kelaman kite borak dalam talipon sehingga masing2 stim melancap same2. itu lah yang kami selalu buat kalau on the phone. Die kate walaupun dah kawin die masih jugak nak mintak di isap kan batang oleh jantan . cume die tak isap orang punye lah.

Die selalu cerite kat saye pasal saiz batang die ( die kate 6.5 inci hitam dangan mashroom head die kata). so suatu hari die di hantar kursus ke bandar twmpat saye tinggal untuk satu minggu. So masa di sini die kontek saye kate nak jumpe pasal die kate tak da bini nak lepas geram sodie perlu seseornag untuk lepas geram die.
So saye datang lah jumpe die kat hotel die menginap. Mat ni tak de lah ensem sangat tapi boleh pakai lah. Cume die dan badan agak gelap dan tough sikit . Tu yang buat saya turn on.

Masuk je bilik hotel tak sempat2 nak jabat tangan die terus terkam dan peluk saye.. Ish mat ni biar betul kate nak orang isap je . Ni lain pulak siap peluk2. Saya biar je lah sedap di peluk gitu. die terus baring kan saye atas katil dan mule mengomol saye. Ish ganas jugak mat ni. Mule2 kate tak nak lah romen2. Bile di tanye die kate saje je nak cume romen ngan lelaki. Saye biarkan je syok lah. So mule2 die kiss bibir dan kulum lidah ish not bad sedap. Maklum lah orang biase kulum lidah bini. Sedap abis. Tak sempat2 nak bukak seluar lagi tu. so lepas kulum lidah anad bibir die mula bukak baju dan selaur die hingga bogel abis. Wow memang betul lah ape die kat ebatang die memenag panjang dan besar. gelap pulak tu. die kate die urut gune minyak lintah. so Saya ape lagi terus terkam dan isap lah batang dia puas2. Wow terjerit2 die kesdapan. Die kate lame dah tak kene isap because bini die tak reti isap. so kalau nak cari orang iusapa dia kene lah cari jantan die kate .

Jantan2 lagi pandai isaop dari pompuan die kate. Betul jugak die kate tu. lepas aku puas isap die jilat poulak tetek aku sampai aku betul2 stim. Die kate nak masuk lubang aku. tapi aku tak bagi . aku kate besar sangat lah tak larat.

So die kate die gian sangat. so saye isap je batang die lagi sampai die betul2 puas. lepas tu die kate die betul2 nak rase belakang saye. saye tak bagi gak beause besar mane laraty salkit. Die ok . Tapi dia kate die nak gesel kan batang die kat permukaan lubang saye je. so saye bagi lah. Saye baring meniarap dan die teurs letal kan batang die di celah due buntut saye. Lepas tu di sorong tarik sambil peluk saye dari belakang. Oi sedap dan panas nye batang die. seronok saye die buat die. Sambil peluk saye dia gentel tetek saye buat saye lagi tambah sti, Geselan die makin laju dan nafas die semakin kencang. Lepas beberapa minit die kat e die nak pancut .

Dengan ghairahnye die samapi kepuncak dan pancut kan air mani di celah buntut saye. aduh mak memang panas dan banyak. lepas pancut die masih lagi gesel kan batang die sehingga saye pun pancut same. lepas tu same same keletihan. Die kate die teringin nak rase luabng saye. Tapi saye kat etak berani nak cube because batang dia tu besar lubang saye sempit. Die kate mesti sedap sedang kan gesel pin dah sedap die kate.

lepas beberap minit kami due mandi. dan saye berkemas untuk balik. Mane boleh tingal ngan die malam tu saye kena balik service wife pulak heheh. Macam tu lah kalau hidup double barrel kena lah pandai bagi masa.

Hisap Konek Indon

Aku bosan. Gejala kebosanan yg melampau buat aku takleh duduk diam kat rumah.
Aku baru pindah rumah. Kat Sungai Buloh. Kalau korang pernah pergi Kampung Melayu Sungai Buloh, korang tau ada kawasan tanam bunga-bunga untuk jualan kan? Banyak gila indon-indon kerja kat situ. Ada yang hensem gile, ada yang hancur. Hahaha...

Anyway, ada satu hari tu aku bosan hari malam. Aku pon kuar la. pergi jalan-jalan sorang-sorang menapak. Dalam area pukul 1 pagi la camtu. Aku lalu makmal kesihatan, klinik kesihatan, sampai la kat kawasan bunga tu. Senyap gila. Tak tau kenapa, aku memang suka jalan malam-malam kat tempat sunyi.
Aku berenti jap. Dah puas tgk kawasan tu sambil bayangkan indon yang kerja berpeloh-peloh, sangap aku tak yah cerita la. dah 6 bulan kot tak dapat batang. Aku pon pusing la nak balik. baru 2-3 langkah, kepala aku kena cekup dengan guni. Lepas tu kena usung ntah gi mana. Aku dengan otomatiknya teros meronta. Cuak kot kena bunoh. ish2...

Diorang campak aku kat atas katil. Nasib baik, kalo lantai dah patah gaknya tulang blakang aku. Tiba-tiba aku dengar:

#1: Bukak pakaianmu! Aku: Huh? Huh? *terpinga* #2: Apanya kamu pekak ya? Mari aku bukakan!
Serentak dengan tu, ada banyak tangan tarik-tarik baju aku. baju aku direntap koyak. Seluar aku entah tercampak mana. Guni tadi akhirnya dibuka, aku nampak 3 orang indon berdiri sambil pegang konek mencanak masing-masing. Aku kenal 2 orang je, diorang biasa kerja kat kawasan bunga tu. Aku masih lagi blur.

#2: Ayuh, hisap butuhku!
Kepala aku ditarik ke batang terdekat. Aku ibarat orang sangap disorong batang, aku terus kolom. Batang dia panjang, tapi tak tebal sangat. dalam 8" kot. Tengah seronok kolom tu, aku rasa bontot aku geli. rupanya ada sorang lagi tengah jilat bontot. kote aku lak kena hisap dengan mamat lain. Aku memang fully occupied la masa tu.

Tengah syok macam tu, tiba-tiba aku rasa benda keras kat lubang aku. Dengan sekali tolak, mamat kat bontot aku terus benamkan batang tebal dia. Aku punya la terkejut sampai tersedak batang dalam mulut. Mata dah merah berair dah. Aku tahan je. Adegan sorong tarik bermula. Aku kena fuck depan blakang. sambil sorang lagi kolom batang aku. Ah...memang nikmat gila.

Tiba-tiba mamat yang fuck mulut aku tu tolak batang dia dalam-dalam. berdas-das air mani dia masuk terus ke perut aku. Lepas tu, dia keluarkan, suruh aku jilat bersih. Air mani dia pahit sket. Merokok kot? hahaha.... Giliran orang belakang pula. Dia menggigil-gigil kat blakang, sambil aku terasa panas dalam bontot aku. Memang nikmat.. Lepas tu diorang telentang kan aku, sambil amek turn fuck aku. Aku dah sampai lost count braper kali dah aku kena fuck. Diorang memang kuat sex, macam kuda. Batang tak turun-turun. Bontot aku memang dah penoh dengan air mani diorang je. Ah.. sronoknya...

Lepas berjam-jam fuck, salah sorang dari diorang amek cawan. dia suruh aku menyangkong atas cawan tu, kasi semua air mani tu masuk dalam cawan. lepas dapat dalam setengah cawan, dia suruh kitorang semua minum sket. Habis licin cawan tu diorang tala. Memang kinky gila la diorang. Bontot aku dah abes merah-merah dah. Jalan pun kengkang dah. Diorang pesan lepas bontot aku sehat datang la lagi.

Haha...tunggu bontot sehat?

No way. confirm aku datang esoknya!

Ayu Yang Jelita

Kisah ini berlaku kira kira 2 bulan yang lepas, Ayu adalah kawan chat Yahoo! dan aku temui dia beberapa minggu sebelum itu di dalam room selangor. Dipendekkan kata, selepas puas mengayat Ayu, dia telah bersetuju mengikut aku ke dalam sebuah bilik di hotel summit subang dan berasmara denganku.

Setelah, check in, mandi dan berbual dan bermesra ala kadar, aku mula memuji kaki ayu yang putih melepak bagaikan bunting padi itu. Ayu hanya tersenyum dan aku membalas senyumannya dengan penuh makna, aku segera memegang kakinya yang diunjurkan di atas katil, sambil memandang dan mengusap-ngusap lembut kakinya. Perlahan-lahan, aku dekatkan mulutku pada hujung jari kakinya dan aku cium sedikit dengan penuh romantis. Ayu tersenyum lagi, terpesona dengan tindakan mesraku dalam cahaya samar, tambahan lagi dalam suasana kamar yang selesa dan dingin itu. Sambil meremas-remas dan mengusap-usap kakinya, aku mula mengucup pipi Ayu, dahinya dan bibirnya perlahan-lahan. Ayu memejamkan matanya, berserah dan menikmati sentuhan demi sentuhan dari bibir dan jemariku.

Perlahan-lahan aku memegang bahu Ayu dan membaringkan tubuhnya ke atas tilam yang empuk dan luas itu. Aku mengusap-usap rambutnya yang lurus dan lembut, sambil meneruskan kucupan demi kucupan yang romantis dan ringan. Ayu membalas kucupanku dan akhir lidah kami bertautan dan saling kulum mengulum. Kadangkala aku menyedut lidah Ayu dan Ayu membalasnya dengan sedutan dan kemutan pada lidahku dengan perlahan-lahan.

Perlahan-lahan, sambil memandang mata Ayu, aku mengerakkan tubuhku dan merapatkan kembali bibirku ke hukung tapak kaki Ayu. Dari hujung kaki Ayu yang putih mulus bagaikan kapas itu, aku mengucup dan membelai kedua belah kakinya. Seterusnya lidahku segera menjalar, mengucup dan sesekali menjilat perlahan betis Ayu putih melepak, lalu meliar di kawasan lutut dan akhirnya sampai kepada peha Ayu yang agak sedikit terbuka.

Aku tahu Ayu sudah tidak mampu menolak fitrahnya yang mahu dibelai dan disentuh olehku, dia cuma mampu mengeliat dan mengeluh kegelian dan terkadang melarikan kakinya seakan tidak mahu disentuh dan terkadang pula bagaikan menyuapkan aku bahagian tubuh yang mana ia mahu aku berikan sentuhan nafsuku. Aku teruskan tindakanku dengan menarik tali ikatan tuala yang dipakai Ayu secara perlahan-lahan, langsung menyelak dan mendedahkan seluruh tubuhnya yang putih gebu, harum, menghairahkan dan menggetarkan seluruh jiwa dan ragaku.

Nafsuku semakin bergelora dan tiada apa yang lain dalam fikiranku melainkan nafsu kejantanan dan keinginan untuk melayari lautan asmara bersama Ayu. Kehangatan semakin membara dan aku kian terpesona dengan lubuk permata Ayu yang semakin dipeluhi titik-titik keghairahan dek sentuhan-sentuhan intimku. Lidahku yang semakin hampir dengan lubuk itu semakin tidak terkawal dan mahu cepat sampai ke destinasi keramat.

Ayu makin laju mengeliat dan mengeluh kesah. Tangan Ayu mengusap kepalaku dan terkadang mencengkam rambutku sekuat hatinya. Aku tahu Ayu semakin tak tentu arah di dalam gelora taufan yang mengganas. Aku memperlahankan jilatan serakahku dan mula bermain-main dengan keinginan Ayu yang teratas. Dengan berhati-hati, aku menjilat perlahan-lahan kawasan sekitar lubuk permatanya. Sedikit-sedikit aku hembuskan nafas hangat kearah lubuk permatanya dan ku jilat sedikit kulit lubuk permata Ayu. Dia semakin mendesah-desah dan sedikit-sedikit mengangkat punggungnya.

Terpesona dengan segala keindahan di depan mataku, aku meneruskan jilatan keramatku pada lubuk permata Ayu dengan sepenuh hati. Aku dapat merasakan cairan mazi Ayu membanjiri mulutku dan menerbitkan rasa yang cukup indah dan enak pada deria rasa lidahku. Aku menikmati cairan tersebut dengan penuh ghairah. Aku semakin laju menjilat, Ayu pula semakin rancak mengeluh dan mendesah, tubuhnya semakin berombak dan bergegar.

Aku meneruskan perjuanganku dengan menghisap biji kelentitnya, dan kadangkala aku gunakan teknik double stroke iaitu dengan menggunakan lidah untuk menjilat dan menggetarkan bahagian bawah kelantit manakala jari-jemariku menggentel biji kelentit itu sendiri. Keadaan Ayu sudah tak ubah seperti kuda liar yang melonjak melonjak ingin dilepaskan dan keluhan nikmatnya sudah bertukar menjadi raungan dan kadangkala merayu dan meminta aku memasukkan zakarku ke dalam pantatnya yang kini banjir tak berkesudahan itu.

Selama hampir 10 minit aku memberikan Ayu kenikmatan yang tak terhingga hanya dengan menggunakan lidahku. Tanganku mula menjalar dan meramas kedua belah payudara Ayu dengan ganas dan liar. Kadangkala aku mengangkat punggung Ayu ke atas dan menolak Ayu kakinya supaya dia melipat badannya, ini membuatkan aku boleh memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dasar lubuk permatanya.

Ayu semakin tidak dapat mengawal dirinya. Tubuhnya menggila dan 10 minit kemudian, badan Ayu tiba-tiba terkejang dan menggigil sekejap-sekejap, aku dengan segera mengunci biji kelentit dan buah dada Ayu dengan kedua belah tangan dan mulut serta lidahku. Kedua belah kaki Ayu yang memang sedia terangkat, semakin kuat mengepit kepalaku yang berada betul-betul dikelengkangnya. Ayu meraung kenikmatan, bagaikan laut yang sudah sedia bergelora, tubuhnya menggeletek bagaikan dihempas ombak menggunung.

Setelah seminit, nafas Ayu mulai reda. Kepitan kedua belah kakinya sudah dilonggarkan dan matanya terpejam rapat. Aku melepaskan gripku pada tubuh Ayu dan berbaring di sebelahnya. Kucium bibirnya yang mungil dan comel dengan mulutku yang penuh dengan air mazinya dan aku jilat telinga dan lehernya. Selepas itu ku peluk rapat tubuhnya dan Ayu membalas pelukanku dengan sangat eratnya.

Setelah aku memberikan masa rehat lima minit kepada Ayu, aku kembali beraksi untuk menyempurnakan asmara kami. Aku tau Ayu seorang perempuan yang sangat submissive. Jadi aku perlu membuat apa yang perlu. Aku memegang rusuk Ayu dengan tapakku dan menggosok dengan perlahan. Selapas itu aku menjalarkan tangan kepada buah dada Ayu yang mekar dan pejal itu. Perlahan kugentel dan kucium putingnya yang kemerahan. Agak lama kemudian aku mula menghisap dan meramas kedua payudaranya secara berganti-ganti, kadangkala kugigit sedikit putingnya dan Ayu akan menjerit kecil kesedapan.

Setelah puas aku menghisap, aku meramas kuat payudara kanannya dengan kedua belah tangan, dan dengan rakus aku mengoyangkan lidahku ke atas dan ke bawah dengan sangat laju seperti sebuah vibrator, memberikan sensasi luarbiasa pada putingnya, Ayu mengeluh ksedapan dan mengeleng-gelengkan kepalanya sambil menarik-narik rambutku. Beberapa minit kemudian aku menukar pula kepada payudara kiri. Ayu benar-benar menikmati sensasi yang kuberikan, dengan mata terpejam rapat sambil mengeluh dan mengerang-ngerang kuat.

Selepas itu aku pula berbaring dan Ayu mula menjilat dan menghisap batangku yang hampir sebesar 3/4 dari diameter tin coke dan sepanjang ubat gigi darlie 250 g (paling besar), batangku memang western size, wanita-wanita yang pernah aku setubuhi kebanyakannya terperanjat dengan saiz batangku, tetapi sebenarnya aku lebih mementingkan teknik daripada bergantung pada saiz zakarku. Aku mengusap-usap ghairah rambut Ayu dan mengusap usap belakang tubuhnya. Mengikut pengalamanku, sesetengah wanita memang suka diusap pada bahagian belakang tubuhnya, mereka merasakan sentuhan pada kawasan itu memberi makna yang tersendiri dalam hubungan seks. Padaku, tiada apa yang lebih menyeronokkan selain melihat wanita yang aku setubuhi terdampar keletihan dan tersenyum puas selepas melakukan persetubuhan denganku. Dan aku suka memberikan pengalaman yang sangat romantis untuk mereka, agar mereka tidak dapat melupakan aku.

Setelah hampir 15 minit Ayu memberikan aku blowjob yang padaku hanya so-so, aku mula mengalihkan perhatian kepada lubuk pantatnya. Kubaringkan Ayu dan kukangkangkan kedua belah kakinya. Ayu merenung wajahku dengan penuh nafsu. Dengan perlahan-lahan, aku letakkan kepala zakarku menyentuh kelentit Ayu dan kugoyangkan perlahan-lahan ke atas dan ke bawah. Ayu kembali memejamkan matanya dan sesekali ternganga kesedapan.

Setelah aku rasakan agak basah kembali lubuk pantatnya itu, segera aku tolakkan sedikit ke dalam pantatnya, lebih kurang setengah inci dan berhenti. Perut Ayu terangkat dan tangannya memaut punggungku minta aku menolak lebih dalam. Bagaimanapun aku tidak menghiraukan isyarat Ayu sebaliknya perlahan lahan aku keluarkan sedikit zakarku. Gerakanku yang pertama ini amat perlahan, aku mahu merasakan sensasi sentuhan kulit zakarku dengan kulit pantatnya dan aku mahukan Ayu merasai nikmat yang sama. Aku juga mahu Ayu merasa betapa zakarku meneroka ruang pantatnya dengan gagah dan penuh kejantanan, dan paling penting, aku mahu bertahan lama.

Sedikit demi sedikit, aku sorongkan kepala zakarku kembali kedasar lubuk pantat Ayu. Kali ini aku masukkan lebih kurang satu inci. Masih ada 5 inci untuk disarungkan. Ayu mengeluh dan memandangku sambil merayu..

"Abang.., please.. Dalam lagi.. Please.. Sedap, besar.. Cepat sikit Bang.. Ayu nak dalam lagi", tangannya kuat memaut pinggangku.

Aku senyum dan memandang tepat mata Ayu yang sangat kuyu itu. Aku menarik dan menyorong kembali zakarku laju sedikit, setelah beberapa kali sorongan, aku meneroka seinci lagi, menjadikan sudah dua inci batangku terbenam dalam lubuknya.

"Abang.. Sedap.. Lagi Bang.. Argghh aa."
"I love you sayang.. Ayu nak Abang?"
"Abang.. Ayu nak sangat Abang. I love you very much.. Please.. Abang.. Jgn seksa Ayu.. Dalam lagi.."
"Emm.. Sekejap sayang yer.. Abang sayang sangat kat Ayu.. Malam ni cuma milik kita berdua sayang, you can have me all night long"
"Oh.. Abangg.."

Aku menyorong-tarik zakarku dengan kelajuan yang bertambah sedikit tapi masih tetap pada ke dalaman dua inci. Ayu mengerang semakin kuat, menyuarakan kenikmatan yang tak terhingga. Aku mencapai sebiji bantal dan aku letakkan di bawah bontot Ayu. Aku segera meneruskan semula permainan tadi dan meningkatkan kelajuan sorong tarik zakarku. Pantat Ayu semakin becak dan licin.

Aku menujah semakin dalam, kini 3 inci bahagian batangku yang sangat keras, besar dan bersemangat mengisi ruang pantat Ayu. Aku terus menujah tanpa henti selama hampir 10 minit sehinggalah terbukti tepat dugaanku, Ayu tidak dapat bertahan. Dadanya berombak dan tangannya kuat mencengkam lenganku. Matanya terpejam rapat. Mulutnya ternganga.., hanya perkataan "Aarghh" yang kedengaran dan diikuti keluhan nafas yang kencang. Seluruh tubuhnya kejang membeku. Aku menghentikan stroke sementara waktu.

Setelah cengkamannya jarinya reda. Aku teruskan stroke-ku, perlahan sedikit tetapi dengan daya tujahan yang lebih keras dan dalam. Ayu tak mampu menahan nikmat ghairah.. Dia hanya mampu menerima sahaja tujahan demi tujahan zakarku yang penuh rakus dan berkuasa. Aku sendiri sudah tidak mampu menahan permainan ini, aku tidak mahu menunggu dan aku cuma mahu zakarku melanyak pantat yang sangat basah dan benyek itu.

Beberapa minit selepas aku mengawal tujahan zakar, nafsuku sudak tidak terkawal lagi. Aku melipat kaki Ayu ke arah kepalanya dan menyuruh Ayu menahan kangkang begitu, aku sungguh bertuah kerana Ayu dikurniakan tubuh yang agak lentur dan dia boleh melipat badannya dengan sempurna sekali. Aku sudah tidak dapat bersabar lagi, Dengan satu stroke yang amat perlahan tetapi amat padu dan berkuasa, zakarku membolos dan menujah pantat Ayu sedalam-dalamnya. Mata Ayu tiba-tiba menjadi putih. Mulutnya ternganga luas, tangannya semakin kuat menarik kakinya supaya semakin rapat kepada badan. Dan aku pula kini bagaikan di awangan, syurga yang teramat indah, penuh cinta dan nikmat.

Aku mula menghenjut, mengayak dan melanyak pantat Ayu dengan penuh kekuatan dan kelajuan. Tenaga dari seluruh tubuhku aku pusatkan pada pinggangku, dan segala deria rasaku cuma terkumpul pada titik utama tubuhku iaitu pada zakarku. Aku cuma dapat merasakan kenikmatan pada zakarku dan menghayati setiap saat, sentuhan dan irama di dalam bilik itu. Aku dapat mendengar Ayu meraung-raung, mengerang dan menjerit-jerit tetapi aku sendiri tidak mampu memahami maknanya sedangkan aku sendiri tidak dapat mengawal keluhan dan raungan nikmat yang mulutku keluarkan. Aku sudah tidak peduli apa pun lagi.

Setelah 20 minit berhempas pulas, aku tidak dapat menahan zakarku lagi, Aku tau Ayu sudah klimax dan merayu meminta aku menghentikan henjutanku tetapi aku tidak menghiraukannya, setiap kali kakinya kendur, setiap kali itulah aku akan menguatkan lagi tujahanku. Dan kali ini, giliran aku pula merasakan puncaknya. Kuhenjut-henjut dan kuayak-ayak ganas zakarku, akhirnya.. dengan satu tujahan yang paling berkuasa dan muktamad, zakarku memuntahkan deras segala air mani yang pekat dan panas yang telah lama terpendam, aku segera menekan zakarku sekuat-kuatnya kedasar lubuk pantat Ayu yang panas dan dalam itu. Mindaku terlontar ke hujung dunia dan gelap dunia pada pandangan mataku. Kuayak-ayak lagi zakarku, cuba mengeluarkan semua titisan air maniku. Kucengkam bontot Ayu dengan keras, kucium Ayu dengan rakus dan kadangkala ku henyak lagi pantatnya dengan zakarku yang sekejap-kejap menegang dan mengendur. Hampir 5 minit lamanya. Aku kepuasan, langsung terbongkang di atas tubuh Ayu. Ayu mengendurkan dan meluruskan kakinya, matanya kuyu.

"Abang, thanks..". Ayu bersuara lemah.
"Anything for you baby..", aku menjawab ringkas.

Kami berciuman, memandang kuyu mata masing-masing sambil tersenyum, berpelukan dan akhirnya tertidur keletihan.

*****

Kini Ayu sudah berpindah ke Johor tetapi kadangkala kami masih bertemu bila ada masa. Aku rasa amat gembira dapat menemui seorang gadis yang seperti Ayu. Pada mataku, Ayu seorang gadis yang hebat, dan aku terfikir, masih adakah gadis lain yang seperti Ayu.

Baru Nak Belajar

Ni nak cerita lah pasal pengalaman zaman persekolahan dulu. Hari tu kelas abis awal, macam biasa aku ajak member pergi lepak kat taman riadah, port kita orang. Kalau dah lepak dengan member tempat camtu biasa lah apa lagi kalau tak bersembang pasal awek masing-masing. Cuma aku aje yang belum ade lagi, mungkin sebab aku ni memilih sangat sejak break-off dengan awek aku. Ego lah katakan.

Tiba-tiba saja ternampak 2 orang awek dari sekolah perempuan dekat kawasan tu sedang berjalan seperti mencari satu tempat untuk mereka duduk. Aku pun apa lagi, pasang susuk lah! Ini lah 'chan' aku nak tunjuk terror kat depan member-member.

Akupun mulakan langkah macam seorang perwira.. Tunjuk macho lah konon..

"Hai" aku menyapa kat dia orang. Mereka hanya balas senyuman kat aku.
"U berdua ni baru balik sekolah ke?" tanya aku lagi.
"Ya.." dengan nada sombong mereka menjawab.
"Eh jual mahal nampak?" aku bertanya dalam hati. Tak Pa, ikan pasti makan umpan, salah seekor mesti dapat punya.
"By the way, nama I Lan and U?" tanya aku lagi dengan konfiden.
"I Yati dan yang nih sepupu I, Yuni.."

Si Yati, 15 tahun, ni putih gebu dan si Yeni, baru 13 tahun, kulit 'sawo matang' macam aku juga. Lepas tu mulalah aku jual minyak kat diaorang. Member-Member aku pun berbulu mata diaorang sebab aku dapat layan dua awek, sekor pun aku tak offer nak kenal kan untuk dia orang.. Dalam diam member-member hilang entah kemana. Ternampak pulak couple kat depan tengah syok beromen. Kita pun apa lagi ketawa-ketawa malu lah konon nampak macam tu..

"U all tak pernah ke nampak benda macam tu atau pun pernah tak buat benda macam tu?" dengan tak sengaja aku tertanya kat diaorang.
"Eh tak lah! Gila ke, kita ni masih sekolah lagi mana boleh buat macam tu.." jawab Yuni yang tiba-tiba bersuara.
"Ai? Apasal pulak kita masih sekolah tak boleh buat pulak? Ingat orang dah kerja aje boleh buat?" Aku jawab dengan sahaja.
"Kalau I ringan-ringan pernah juga dengan ex-bf I" celah Yati.
"Oh ye ke? Macam mana best tak?" aku tanya dengan sungguh-sungguh nak tahu.
"OK lah tapi tak rasa apa pun mungkin my ex tu tak tau romen lah" sambung Yati lagi. Yuni hanya seyum sinis dengar jawapan dari Yati tu.

Hai nampak nya kenduri besar lah aku malam ni..

"Kalau gitu I jadi bf you lah I boleh bagi U feeling punya" jawab aku dengan berseloroh. Kee! Kee! Kee! Ketawa gatal bercampur miang memecah senja tu.
"U mesti dah expert eh!" tanya Yuni.
"Expert tu tidak lah tapi boleh tahan experience jugalah" jawabku lagi.
"Betul ke? Dengan siapa? Dah banyak ke girl yang U buat cam tu?" tanya Yati.
"Yang tu tak leh jawab dulu, kalau U nak tau kenalah cuba dengan I dulu, nanti U mesti tau punya.." sambil tu aku merapatkan lagi tempat duduk aku dengan Yati.
Yati berbisik kat aku, "I nak, tapi Yuni siapa nak handle dia?"
"No problem I tahu macam mana nak handle dia" sambil aku tarik tengkok Yati dan berbisik.

Sempat aku jilat telinganya untuk memulakan adengan yang memberahikan. Uhh.. Yati mengeluh kesedapan dengan jilatan lidah api aku.

"Eh korang buat apa ni!?" tanya Yuni.
"Tak de apa apa, ringan-ringan aja, U relax lah tengok kita buat, kalau nak belajar teknik-teknik beromen, sambil tu tengokkan kalau ada orang OK!" perintahku. Sambil tu aku suruh Yuni duduk kat sebelah aku.

Yati sudah mula hayal dek pelukkan elektrik aku sambil mengusap-usap tengkok dia, ni lah kelemahan perempuan, bibir aku pun mula mendekati bibir Yati. Kita berciuman basah sambil lidah kami bergomol antara satu sama lain. Yuni hanya perhatikan kelakuan kami berdua. Tanganku meraba-raba ke tetek Yati yang agak padat tu. Hmm besar juga tetek dia, Yati biarkan apa yang aku buat. Tak cukup dengan tu aku pun menyapai tangan Yati untuk meraba pelir aku, dia turutkan kemahuanku, uhh sedapnya. Satu demi satu aku tanggalkan butang uniform Yati, ternampak longkangnya yang gebu tu, aku menyelokkan tanganku ke dalam colinya dan meramas-ramas tetek si Yati. Dia mengerang kesedapan, makin keras dia memicit buah pelir aku. Dalam itu aku pun melepaskan butang coli Yati, aku pun menyelaknya dan lidah apiku pun mula mencari sasarannya nya.

"Eerrgghh..", Yati mendesah lagi mungkin sedap atau mungkin tak tahan geli.

Aku tak peduli sambil cuba memasukkan payudaranya ke mulutku sambil menggigitnya. Rasa macam nak telan aje gunung tu. Tanganku mula menjelajah ke peha Yati yang putih gebu itu, dengan perlahan aku meraba selengkangnya. Aku mengusap-usap seluar dalam cotton-nya yang dah basah sejak tadi lagi.

Tiba-tiba Yati menarik Yuni mendekati kami, diambil tangan Yuni ke riba aku. Aku terasa panas, mungkin si Yuni pun dah naik stim. Aku mula menurun kan zipku dan mengeluarkan 'pedang pemecah langit'ku dengan dibantu Yati. Dia merosotkan seluarku ke paras lutut, maka terlihatlah pedang yang terhunus bersama dua biji bebola besi.

Yati terus melancapkan aku. Yuni seperti dirasuk, mula mengikut apa yang dibuat Yati tadi. Dia mula bermain dengan bebolaku. Aku pun begitu juga, mula memasukkan jariku ke alor sungai yang sempit itu. Semakin laju jariku berdayung, begitu juga dengan Yati yang seperti lagi menumbuk sambal.

"Aahh.. Aahh.. Aahh..", kata Yati yang dah tak tahan itu, tapi aku tak pedulikannya, aku terus mendayung sampai dia klimaks!

Sudah itu dengan matanya yang setengah buka setengah tutup berbisik kat aku..

"U memang best, I tak pernah rasakan macam ni" aku senyum sahaja.

Kapal tak sampai lagi. Aku menyorong kepala Yati ke konekku yang mengeras macam batang besi tadi. Dia tahu apa yang harus dia lakukan walaupun nampaknya dia belum pernah kerja-tiup (blowjob) tu. Aku mula merangkul Yuni dan menciumnya. Dia tak melawan dan ikutkan saja apa yang aku buat.

Tetek Yuni tak sebesar tetek Yati tapi padat dan kenyal. Aku menyelak uniform serta coli Yuni. Sambil tangan kananku pula menyelak seluar dalam Yuni yang pun dah basah kuyup. Kedua-dua awek ni tak de bulu cipap lagi. Jari-jariku mula bermain di celah selengkang Yuni yang lubangnya terlalu kecil lagi sempit itu.

Sekarang giliran Yuni pula untuk menikmati kelazatan zakar aku sambil Yati memerhatikan perbuatan adik saudaranya tu. Yati menjilat-jilat pula pelir aku. Waah aku bagaikan raja dilayan dayang-dayang. Aku meramas tetek kedua awek tu. Kiri dan kanan.

Hari sudah gelap tak nampak satu manusia dikeliling kami. Aku suruh Yati baring di kerusi panjang tempat kita duduk. Aku baring diatas Yati.

"Bang! Yati takut pregnant"
"Don't worry sayang I tak pancutkan kat dalam" pujukku.

Aku menyuruh Yuni mengarahkan batangku ke mulut cipap Yati, ni first time dapat buat adengan berat sebab tu belum tau shooting lagi, dengan pelahan Yuni memasukkan dan aku membantu dengan menolak pelahan juga.

"Aaww..", jerit Yati.
"Sshh.., Sikit lagi sayang" rayuku pada Yati.

Zitt.. Terasa dara Yati terkoyak olehku.

"Ooh..", Yati kesakitan.

Aku mengulum lidah Yati supaya dia tidak dapat menjerit lagi. Aku pula mula menghayunkan badanku. Kami berdua mula mengimbangi permainan kami. Yati dah tak tahan lagi langsung klimaks! Dia menciumku dengan kuat, meyedut lidahku kepuasan biar pun sakit pada mulanya.

Kini Yuni pula merebahkan dirinya di depanku, bagaikan minta di'fuck'. Aku menguakkan kakinya tinggi dengan dibantu Yati.

"Ti sakit tak?" tanya Yuni pada Yati.
"Sikit je lepas seminit tu tak sakit lagi" pujuk Yati pada Yuni agar melayani nafsuku.

Aku pun rasa dah tahu kat lubang mana aku nak sental, aku pun mula dengan pelahan. Tapi kali ini batangku rasa perit sedikit sebab lubang Yuni yang masih terlalu kecil lagi untuk batang aku yang 5.5" tu dan bulatnya adalah sebesar bulat duit syiling 50 sen.

"Aahh!!"

Setelah selaput daranya dirobek Yuni menjerit kesakitan. Yati menutup mulut Yuni supaya jangan menjerit. Aku pun suruh Yati menghalakan selengkangnya ke arah mulut Yuni. Dan menyuruh Yuni menjilat pantat Yati. Yuni menghirup sisa-sisa air alor Yati tadi. Srrp srrp.. Terdengar jilatan Yuni. Yati yang kesedapan memejamkan matanya. Yuni mula rasa keenakan dek buayan syurgaku. Dengan pantas aku meneraju kapal yang hampir berlabuh itu.

Yuni klimaks, aku tahu kemutan dan rasa kehangatan air cipapnya yang menyembur batangku di dalam, kemudian aku suruh mereka berlutut di depanku sambil melancap depan muka dua saudara tu. Crrutt crrutt crutt air maniku memancut dengan banyaknya ke muka mereka sambil kusuruh mengeluarkan lidah masing-masing. Hhmm sedapnya mereka kata kat aku.. Rasa sakit di puki dia orang dah hilang kini batang aku pulak yang melecet sebab mengoyak dan merobek dua dara sunti sekali goes. Aku mengaku itulah pengalaman make love aku yang pertama dan mereka pun rasa beruntung juga sebab dapat bujang aku pada malam tu.

Satu hari tu pemeriksaan dah nak dekat, jadi Yuni pun ajaklah member dia sorang tu nak belajar sama. Nama dia Juniati tapi dipanggil Juni aje lah! Dia bengap. Sekejap nak tanya aku pasal tu dan ni. Terkadang tu sengaja aku gesel tetek dia yang agak besar kalau dibandingkan dengan gadis yang seumur dengannya. Paras dia dikatakan lebih cantik dari Yuni atau Yati. So agaknya aku dah bosan dok layan pertanyaan dia, aku sengaja masuk kan batang pensil ke celah longkang dia.

"Eh apa ni?" tanya Juni.
"Tak de ape saj nak tengok berapa besar U punya dengan Yuni dan Yati.." jawab aku berseloroh.
"Ya lah mari kita tengok siapa punya yang besar!" celah Yuni.
"OK aku setuju" sokong Yati"
"Tak nak lah! Malu lah ada Abang!" jawab Yuni.
"Apa nak malu kita orang dah biasa tengok masing telanjang!" kataku lagi.

Dengan tak cakap banyak, Yuni dan Yati pun memaksa bukak baju Juni dengan diperhatikan olehku.

"Eh tak nak! Tak nak! Apasal ni korang?" ronta Juni.
"He he he padan muka kau tadi suruh buka elok-elok tak mau kan dah kena paksa" Yuni bersenda.

Akhirnya terdedah juga badan Juni di hadapanku. Dia memakai coli putih brand Bee Dees menampakkan teteknya yang keras. Lalu aku sengaja menyelak skirt uniform Juni.

"Ha pakai seluar dalam pun Bee Dees lah!" Juni ni anak orang berada jadi pakaian dia boleh dikatakan Branded. Benar sangkaan aku, dia memakai baju dan seluar yang sepasang.
"Eh pakai branded, apasal nak tutup pulak tunjuk kan lah, U mesti bangga dengan Branded stuff U!" kataku lagi.

Yuni dan Yati pun dah buka pakaian masing-masing, hanya tinggal baju dan seluar dalam mereka sahaja yang menantikan perasmian dari aku.

"Ia lah Juni buka lah skirt kau Juni, kalau tak kita paksa lagi nak tak?" Yati mengugut Juni.
"OK OK OK aku buka, tapi untuk apa korang buat ni?" Tanya Yuni dengan tersipu.
"Alah nanti tau lah kau.." jawab Yati.

Wah rupa rupa nya payudara Juni lebih besar kalau dibandingkan payudara Yuni dan Yati. Kita orang pun tengok lah cerita blue yang kita buat sendiri. Untuk pengetahuan korang, kita ada rakamkan adegan seks kita. Sebab Ayah Yuni ni juru video jadi diam kita pakailah sendiri.

"Eh tu korang ke Yuni, Yati?" tanya Juni dengan terperanjat.
"Siapa lagi kalau tak kita, saja kita tape buat kenangan.." jawab Yuni.
"Ee, tak sangka korang boleh buat benda cam ni, takulah" jawab Juni lagi.

Sebelum apa-apa aku pun merangkul leher Juni dan menciumnya. Juni meronta tapi aku terus jilat telinga, leher dan kelongkangnya. Juni pun tak terdaya nak melawan lagi kerana keenakan jilatanku.
Uhh Juni mendesah, "Sedapnya.." katanya halus.

Yuni dan Yati mula mendekati kami. Juni kita baringkan di sofa. Yati dan Yuni memegang peha Juni kiri dan kanan. Juni hanya dapat memejamkan matanya kerana malu. Aku baring di atas badan Juni yang empok tu. Dan teruskan jilatanku di seluruh badannya. Aah.. Aku pun menyelak seluar dalam Juni dan terlihat bulu halus Juni di dalamnya.

Pukinya mula basah dan aku mau ia tambah basah dengan menjilatnya. Yuni merapatkan wajah dekat aku seperti minta dijilat seketika. Aku dan Yuni pun bermain lidah. Sementara Yati pula secara diam bermain lidah dengan Juni. Yuni, Yati dan aku pun secara bergilir menjilat puki Juni. Dia dah tak tahan dengan kelakuan kami. Sudah berapa kali dia cum tapi batangku masih belum merasmikannya lagi.

Kemudian aku pula yang duduk di sofa, Yuni dan Yati menarik seluar dalam aku ke paras lutut. Mereka bermain-main dengan batangku yang sejak tadi belum dijamah. Kusuruh Juni turun dan melihat apa yang mereka sedang lakukan pada batang butuhku. Yuni menjilat kepala butuhku Yati menjilat buah pelirku. Kakiku diangkat tinggi supaya dapat kulihatkan lubang buritku yang juga minta dijilat.

Juni terasa ghairah dengan adegan jilat menjilat itu. Lalu mereka pun bergilir menjilatku. Aku pun hayal dengan kenikmatan itu. Yuni dan Yati dah tak sabar minta di'fuck'. Yati naik atas batangku dengan memandang ke arah aku. Dengan perlahan dia memasukkan batangku yang besar ke dalam rimba nafsunya.

"Uuh.. This is what I want", kata Yati.

Juni dan Yeni duduk di antara kanan dan kiriku sambil aku memicit dan meramas buah dada mereka yang masih awal ranum tu. Yati menghenjut seperti menunggang kuda. Semakin pantas semakin kuat nafasnya menghembus.

"Aah I cum, I cum, I cum..", Henjutan Yati menjadi lemah lalu dia pun menciumku menandakan dia dah 'cum'.

Giliran Yuni pula dengan menghulurkan bontotnya ke arahku. Yati menghulurkan batangku ke puki Yuni yang masih ketat walaupun sudah berkali di belasah olehku. Yuni menghulur dan menarik bontotnya kemudian aku menghentakkan batangku dengan kuatnya ke puki Yuni.

"Aaww..", jerit Yuni yang sedap-sedap sakit itu. Dia pun melajukan gerakannya.
"Aahh.. oohh.. aahh yes fuck me fuck me..", Yuni dah bagaikan orang hilang akal. Aku pun menghentakkan batangku dengan sekuatnya ke puki Yuni. Aahh.. Yuni berhenti seketika menandakan dia pun dah cum.

Kini giliran Juni pula untuk mengorbankan daranya padaku. Yati dan Yuni menarik kaki kiri dan kanan Juni dan menaikkanya supaya ia terbuka luas. Juni hanya bisa diam, mungkin ingin merasakan kenikmatan yang sudah dikecapi oleh Yuni dan Yati. Dengan perlahan aku menyorong batangku, pukinya dikuak oleh Yani dan Yati yang suka bekerjasama dalam hal-hal macam ni.

Uuhh bila batangku mula memasuki lobang Juni. Terasa betapa basahnya puki dia dan terasa agak licin di dalam mungkin kerana dah terlalu banyak air alornya mengalir. Kumasukkan setengah batangku dan kutarik semula kumasukkan lagi dan terus ke dalam lubang puki Juni. Dia hanya memejamkan matanya sambil mulutnya terbuka seperti menjerit tanpa suara. Aku meramas ramas buah dada Juni yang aku geramkan sejak tadi. Aku hisap-hisap dan aku jilat teteknya.

Dalam sesi selama 45 minit itu akhirnya aku terasa air alor Juni memancut di kepala butuhku, terasa kehangatannya aku pun menarik keluar butuhku dan mengarahkan ke muka Juni. Yati dan Yuni mendekat kan wajah masing seperti menunggu terpancutnya airmaniku yang lazat.

Crrutt crutt crutt air maniku terpancut dengan banyaknya di muka dan di dada Juni. Yati dan Yuni menjilatnya seperti kucing minum susu.

Kami pun terbaring di depan sofa berempat kali ini. Juni katakan dia tidak menyesal apa yang dia buat hari ini. Dia sebenarnya memang nak tahu benda ni cuma tak de orang nak bagi.

Pandai Makan Pandai Simpan

Ada orang pandai makan pandai simpan. Ada orang pandai makan simpan tidak maka bongkarlah rahsia. Namun rahsia tidak perlu diketahuin oleh keluarga. Suasana pagi di sebuah Kampung di tepi Laut Cina Selatan ini cukup tenang. Rumah bapa saudara Sofia ini agak besar juga. Boleh dikatakan kebanyakan rumah-rumah di kampung ini bertiang tinggi. Ini bagi mengelakkan daripada ditenggelami air apabila banjir melanda. Boleh dikatakan bapa saudaranya itu dari kalangan orang berada juga.


Aku agak kepenatan kerana perjalanan jauh juga dan aku terlena di bilik rumah Pak Long Sofia selepas solat subuh tadi. Aku tersedar dari lena apabila telingaku disapa suara yang sayup-sayup kedengaran.

"Baru bangun tuan puteri?" tegur Sofia apabila melihat aku menggeliat kemalasan. Dia baru sahaja selesai mandi.
"Letih sangat naik bas semalam." Alasanku. Segan juga aku bila memikirkan anak dara bangun tengah hari kat rumah orang pula. Nanti dikata orang anak dara pemalas.

Aku dan Sofia rakan akrab. Semenjak kami di menara gading lagi. Kami anak KL. Dibesar dan mendapat pendidikan di KL. Kini kami terpaksa mengharungi masa sekarang dan masa depan kami di sebuah bandar di tepi laut Cina Selatan. Aku berkulit cerah, tinggiku sekitar 160cm dan sedikit kurus. Aku rasa macam itulah walaupun tubuhku berisi pejal. Sofia pula tinggi sama dengan aku tetapi dia chubby. Kulitnya sawo matang. Senyumannya manis dan menawan. Aku jarang senyum melainkan diper-lukan.

Kini kami berdua bertugas di Kuantan. Nama tempat kerja rahsia. Cukuplah maklumat di mana kami berada dan duduk. Setelah tiga bulan duduk menumpang di rumah Pak Long, kami mengorak langkah menyewa sebuah rumah di Taman Tas. Aku mula merasa senang kerana tidak menumpang lagi. Sofia juga begitu. Kami inginkan angin dan udara kebebasan. Rumah sewaan kami itu kami lengkapkan termasuklah dengan komputer.

"Ko masih chatting Sofia?" tanyaku sengih kerang sambil membetulkan jubah hijau jernihku.
"Habis apa nak buat lagi?Kalau ada masa senang dan boring chatlah." balas Sofia yang berkemeja T dan berkain batik.

Tidak memakai coli. Kelihatan puting teteknya menujah kemeja T lembutnya.

"Aku ada sorang chater veteran. sudah dua tahun aku chat dengan dia. Sekali sekala kami bersms. Aku rasa dia OK-jarang cakap lucah banyak memberi pandangan dan nasihat bila aku memintanya. Aku panggil dia Abang N," jawab Sofia senang.
"Tengoklah gambar dia," kataku ingin tahu. "Dia kat KL, ko tak pernah meet dia ke Sofia oi."
"Adalah.. Sekali dua jer.. Dia tu cool oldman, tetapi aku suka kat dia. Dia bertimbang rasa. Ada juga bantu aku bab-bab pelajaran ni." balas Sofia sambil membuka homepage Abang N.

Homepage Abang N memenuhi skrin komputer. Segak, kool, tinggi dan slim fit orangnya berkulit cerah sambil tersenyum. Gambar dari dua sudut dan gambar penuh.

"Patut ko tangkap ngam dengan dia Sofia, awet muda skit," kataku mengusik Sofia.
"Bolehlah bukan nak buat suami.. Buat member dan kawan menden-gar masaalah masing-masing.." kekeh Sofia dengan teteknya terhinggut-hinggut.
"Ye kerr takat tu aje," aku mula mengacah. Benar aku dengan Sofia berkawan baik tetapi cerita kami hanya setakat itu sahaja.

Kini kami sudah dua bulan duduk serumah di Taman Tas. Kami bergilir chatting bila ada kelapangan atau kami kebosanan. Di KL Sofia dengan halnya di luar kampus. Kami baik hanya di dalam kampus. Kalau kami keluarpun hanya jumpa untuk makan dan nonton wayang. Itu di KL. Selain itu apa aktiviti Sofia aku tak tahu.

Sofia memandang tepat ke wajahku. Dia senyum mulus. Dia mengenyit-kan matanya. Aku masih tidak mendapat apa-apa cerita darinya.

"Aku rasa dalam bab chatting ni ko lebih terbuka dan open dari aku. Lebih-lebih lagi berkawan dengan veteran atau oran yang lebih tua dari ko," kataku ingin tahu.
"Kalau kau rajin chat kau tahu. Nak explore tahu tak mahu sahaja. Kalau kau nak explore lebih macam-macam boleh jadi. Tepuk dada tanya selera.." jawab Sofia kekeh.
"Chatroom tu macam-macam. Beragam. Aku pun pelik semua nak sex. Kita mana tahu. Kekadang jangal bila mereka menyebut kata-kata lucah itu," balasku. "Ee gelilah.. Takut aku."
"Gelii tu sedapp.." balas Sofia tersengih dan ketawa.
"Geli apa pula yang sedap Sofia?" tanyaku dan nyata aku memang tidak tahu dan faham.
Sofia hanya ketawa. "Bila lelaki bersama wanita atau sebalik-nya. Paling tidak pegang-pegang tangan. Itu minima."
"Habis ko biasalah.. Lebih berat ker dari pegang-pegang tangan," tanyaku ingin tahu.
"Hehehe ko ni Ika.. Apa lagi? Aku make love dan have sexlah. Aku enjoy difuck. Sedap dan mengapungkan aku diawang-awang. Macam bidadari terbang menerawang.. Mengasyikkan," jelas Sofia membetulkan kainnya.

Mulutku melopong. Aku benar-benar terkejut bagaikan aku ditibai ribut petang.

"O ye kerr.. Ko tak citer kat akupun. Dengan saper ko main Sofia? Sape dapat dara ko?"
"Dengan Abang N akulah. Dia yang mengenalkan aku dunia asmara dana ni," jawab Sofia memegang buah dadanya, "Aku kesedapan. Orang lama lah katakan. Aku suka dan tidak melarangnya."
"O migodd.. Aku tak sangka. Ko nampak decent jerr kat kolej," kataku mengeleng bagaikan tidak percaya, "Macamana ko boleh memulakan Sofia. Interesting juga adventure ko. Apa rasanya?"
"Fitrah manusia. Aku rasa sedaplah. Seronok menenangkan fikiran dan sakit waktu mula-mula kena fuck." sahut Sofia sambil bangun mendapatkan kuih lapis. Kuih itu diMamah dan ditelannya sambil meneguk air teh suam-suam.
"Selepas itu ia cukup mengasyikkan. Macam satu iyadah. Berpeluh bila waktu berpeluh. Ia satu kerja keras dan kerja kuat untuk mendapat kepuasan."
"Ko tak takut ke kote tu.. Apa rasa kote tu masuk dalam cipap? Nanti ko ngandung camana?" tanyaku bertubi-tubi ingintahu.
"Memamnglah takut mula-mulanya. Tapi bila difikirkan mana ada kote lelaki sebesar kepala bayi yang lahir.. Kalau kepala bayi boleh keluar dari lubang cipap itu, kote tak lah besar mana. Sure lubang cipap boleh terima walaupun tubuh kita kecil atau besar," tambah Sofia lagi terkekeh kecil.
"Aku akui mula-mula kena kongkek memang sakit, koyak bibir faraj pedih kena air, lubang cipap kita ketat pada masa itu dan zakar yang menujah keras tak kira kecil atau besar. Sure dara kita pecah dan berdarah. Darah ada yang sikit dan ada yang banyak. Belum tentu sedkali fuck kita sudah habis dara. Itu yang I kata sakit. It all depends. Macam I kena fuck empat kali satu hari satu malam, baru dara I pecah baru batang Abang N masuk habis rapat dinding perutnya dengan dinding tundun I yang tembam ni."
"Fulamakk reallah ko Sofia.. Selalu ke ko make love dengan Abang N di KL?" tanyaku lagi dengan dadaku berdebar kencang mendengar dan menanggapi cerita Sofia difuck oleh Abang N, chaternya.

Sofia yang merelakan dirinya difuck. Itu pengakuannya. Terasa juga janggal dan geli dengan penjelasan Sofia yang berterus terang dan bersahaja itu.

"Selalu juga. Bila takde kuliah dan bila Abang N free. Kan aku pernah kenalkan ko dulu masa dia datang kolej ambil aku. Aku kenalka dia bapa sedara aku kat ko. Cuba tengok gambar tu betul-betul, aku rasa ko lupa," jelas Sofia senang hati. Ketawa.

Aku melihat semula homepage Abang N. It strikes me. Aku senyum. Memang ngam Abang N. Seingat ku semula. Hormat dan baik nampaknya.

"Masa dan hari itulah aku ikut Abang N. Hari aku kenalkan ko kepada Abang N tahun lalu. Hari itulah aku hilang dara aku," tambah Sofia girang, "Yes hari itu.. Petang dan malamnya aku bersama Abang N. Dia uli tubuhaku. Dia urut, jilat, nyonyot, gigit, hisap, sedut semua bahagian-bahagian sulit dan sensitif di tubuhku. Dia yang kali keempat malam itu berjaya menjadikan aku seorang wanita dengan masuk zakarnya yang besar, panjang dan keras ke dalam puki aku, Ika. You got it?Selepas itu aku senantiasa mahu difuck oleh Abang N."
"Makk.. I never knew. Surprising hari ini ko cerita habis kepadaku hal ko dengan chaters kesayangan ko Abang N, patutlah dia layan ko baik," kataku terasa juga nak menjadi seperti Sofia tetapi aku belum berani.

Sofia sengih.

"Ada satu citer lagi ko tak cayer. Kisah ini takde kena mengena dengan chaters. Ni kisah dengan lecturer kita, Dr. Majid. Ko ingat aku sudah terover dengan assignment aku. Kan aku kena panggil. Apa aku buat untuk lulus paper tu?"
Aku mengerutkan dahi. "Apa ko kena buat Sofia?"
"Aku blow job kote dia. Kote dia pendek dan kecil. Usia dia sebaya Abang N. Kemudian aku strip panty aku, selak kain, suruh dia fuck aku doggie style, bukan main suker dia. Dia unzip zipper dia, keluarkan kote, dia yang tegang dan masukkan dari belakang buntut aku. Aku tidak rasa apa-apa. Kejap ajer dia fuck aku dia sudah cumm.. Pastu aku tahu aku lulus. Hehehehe.." ketawa Sofia menceritakan.
"Is that true? Hebat ko Sofia. Pandai ko simpan rahsia masa kita kat kolej." kataku dengan mataku hampir terbeliak dan nafasku tersekat kerana terkejut.
"Biasalah. Ko sorang aje yang tahu nih. Janji lulus lagipun bukan luak. Hehehehe.." tambah Sofia mendepangkan tangannya.

Aku melopong. Itulah realiti kehidupan. Wanita yang bertudung, pijak semut tak mati namun berani dengan adventurenya. Semua ini adalah sebahagian realiti yang berlaku dalam masyarakat. Mungkin juga telah banyak kita mendengar formula dan saranan bagi mewujudkan sebuah keluarga yang utuh.

"Selagi manusia bernama manusia, selagi itu tidak wujud perfection. Malah kita bukan mahu perfection, memadailah semua perlakuan baik pengucapan mahupun tindakan biarlah ada muzakarah, perbincangan dan concensus," ujar Abang N sambil mengulum gula-gula Hacks.

Abang N mengulurkan bungkusan gula-gula itu kepada Kartika, yang sedang duduk berdepan dengannya. Ika sudah menghidangkan air milo buat Abang N. Kartika menyambut dan mengambil satu gula-gula hacks, membuka kertas pembalut lalu memasukkan gula-gula angin itu ke dalam mulutnya. Dia juga turut mengulum. Abang N tidak merokok. Dari dekat jelas dahinya sudah bergaris namun kulitnya tegang dan ototnya masih keras. Abang N menghirup milo suam-suam itu penuh nikmat. Milo memang favourite drink Abang N.

"Payah nak cakap Bang.. Hidup kita ini memang sudah nyata direncanakan oleh Tuhan kita. Kita hanya melayarinya dan melakunkannya sahaja. Tuhan meminta kita insaf dan mengagungkan-nya dalam payah, resah dan susah kita," jelasku pula kepada Abang N yang datang ke rumah sewa kami untuk berjumpa dengan Sofia.
"Sofia ke Kertih Bang. Due back tomorrow..," kataku kepada Abang N. "Apapun duduk dan minum dulu Bang."
"You sihat nampak. Macam i jumpa kat kolej dulu. Steady dan maintain. Hari ni baru nampak real you. Dulu you bejubah semua tutup, sekarang ni lawa dan cantik, rambut ikal.. So swiitt," puji Abang N tergeli kelenjarku.

Kembang kuncup hidungku bila dipuji.

"Biasa je Bang. Tq compliment tu. Ika tak rasa apa-apa," jawabku sedikit gugup dan merasa ronggaku berangin.
"You tahu apa makna nya "hacks" tu?" tanya Abang N sengih.
"Hanya (H) aku (a) cintakan (c) kau (k) sahaja (s).." jawabku pantas dan sengih. Mata Abang N jalang menjilat dadaku. Memerhatikan kaki dan tumitku yang kemerah-merahan.

Abang N bertepuk tangan. Senja sudah berlabuh dan langit mula gelap. Aku bangun memetik suis lampu di ruang tamu rumah sewa kami. Terang ruang tamu kami dan aku kembali duduk semula menghadap Abang N.

Dia menambah, "Ada satu makna lagi tapi no offence ok.. Hak (h) aku (a) cipap (c) kau (k) sayang (s).."

Aku tersipu-sipu malu.. Menundukkan wajahku dengan hatiku sarat dengan debaran.

"Isshh Abang ni pandai jerr.. Kalau Sofia ada nih sure dia ketawa kuat-kuat."
"Ahh, Ika pun boleh juga kalau mahu. Tu sudah makan gula-gula hacks tu, mau kerr," tanya Abang N yang bangun dari duduknya.

Kini Abang N tercegat di depan kedudukanku. Hatiku dub dab kencang. Aku membisu walaupun di hatiku tercuit juga dengan 'hacks' Abang N.

"Jom kita dinner, duduk rumah anak dara lama-lama pun tak bagus juga. Nanti pencegah maksiat datang, buang masa nak explain. Nak join Abang tak Ika?" ajak Abang N sengih kerang dan mengusap dadanya. Orangnya tinggi dan kacak.

Aku ni kawan girlfriend Abang N, kawan chater dia Sofia.

"Cuba Abang fon Sofia, beritahu Abang datang cari dia."
"Tak apa Ika, let her finish her work. Nanti boleh jumpa dia petang esuk," jawab Abang N, "Are you joining me for dinner dear?"

Aku senyum. Fikiran berat nak ikut tetapi hatiku menyuruh aku menguntit dan menemani Abang N. Takat dinner apa salahnya. Sofia pun bukan jelous atau marah. Too bad, kalau Sofia ada sure malam ni dia akan have a good fuck with Abang N.

"I will,"jawabku,"Tapi let me change. Nak salin poakaian sekejap. Boleh Abang tunggu?"
"Ok Ika.. Take your time.. Abang tunggu di luar ok," jawab Aban g N.
"Okk.." balasku sambil terus bangun menuju ke bilikku untuk bertukar pakaian.

Abang N menutup pintu depan dan keluar.

*****

Abang N menaupkan bibirnya ke bibirku. Aku berada dalam pelukannya. Mukaku tersembam ke dadanya. Bibirnya menjalar ke leherku. Aku mula merenggek dan mengerang. Bila lidahnya menjulur dan bermain dengan lidahku, aku kaku dan tubuhku mengigil seram dan sejuk dalam dakapan dan jilatannya.

Wajahku-sentuhan telapak tangan Abang N ke wajahku lembut. Hidungnya mula mencium pipiku dan membenamkannya ke leherku semula. Dadaku-nikmat.. Fuyoo.. Nikmat.. Bahagian sulit yang sensitif. Baik disentuh mahupun dijilat lebih lagi. Puting tetekku sebesar siling sepuluh sen-tubuh ku mengeliat dan mengelinjang bila puting susuku dinyonyot, dijilat, dihisap dan disedut oleh mulut Abang N.

Tetekku-35 saiznya bentuk pear-diramas aku mengigil baik perlahan atau kuat. Cepat mengeras dan mencanak. Tambah dijilat di bawah pelipat tetekku. Aku merenggek, mendesah, meraung dan mengerang. Mataku terpaku melihat batang zakar Abang N. Memang besar, panjang dan mencanak ke depan.

Perutku-larian lidah sentuhan tangan cukup mengusarkan aku. Geli namun nikmat. Bila sentuhan telapak tangan Abang n perlahan mengusap dan mengurut tundun ku yang terangkat ke atas. Cipapku-'hacks" hak aku cipap kau sayang--desah halus Abang N ke telingaku.. Lurah cipap-dia menguak lurah cipapku.. Menjilat lurah cipapku perlahan dan manja sambil punggungku terangkat-angkat. Kenapa dan mengapa tubuh ku bertindak sedemikian aku tidak tahu. It acts naturally.

Kelentitku-lidahnya bermain di kelentitku.. Aku kelemasan aku mengerang dan menjerit-jerrit halus. Tubuhku terkedu dan aku mengeliunjang menahan diperutku yang dipenuhi kupu-kupu. Lubang faraj-kini lidah Abang N bermain di sekeliling lubang farajku. Di situ sudah berlendir sejak Abang N fuck payudara aku. Aku mengerang, mendesah, merenggek dengan nafasku kasar dan kuat. Kini aku merasa kehangatan walaupun aku berada dalam kamar aircond hotel grandcon di mana Abang N menginap.

Batang zakar-aku memegang, mengurut batang zakar Abang N yang tebal, berurat dan keras. Kepala kote Abang N mengembang macam cendawan. Bulat macam mentol lampu philips. Kedengaran Abang N asyik masyuk. Dia mempersiapkan aku unuk satu persetubuhan yang manis.

Perasaanku-takut sudah hilang. Aku tidak menolak bila Abang N mengajak aku ke biliknya selepas dnner. Perasaanku yang gusar dapat kukawal, aku tertarik dengan manusia Abang N ini. Bila aku ditelanjangkan dia melakukannya dengan lemah lembut perlahan dan memanjakan aku. Mencumbui aku sambil membisikkan pujian tentang bodyku ke cuping telinga sambil menjilat dan mengigit cuping telingaku manja.

Disetubuh kali pertama -yess.. Abang N bersedia dan mempesiapkan aku untuk disetubuhi. Walaupun lubang farajku berlendir yang bertindak sebagai pelincir.. Aku menjeritt kuat dan menolak dada Abang N meminta dia pelan-pelan memperlakukan persetubuhan kerana aku kesakitan dan keperitan.

Abang N mengucup aku, meramas buah dadaku, menjilat kelentitku semula. Aku tetap kebasahan dan mengangkangkan kakiku seluas-luasnya. Menyediakan cipapku untuk menjadi 'hacks' Abang N.

Disetubuh kali kedua sejam kemudian-aduhh.. Masih perit dan sakit walaupun kepala kote sudah lepas dari mulut lubang faraj.. Aku memejamkan mata, mulutku bertitir, gigiku dingertap, bibirku dikumam-pukiku keperitan dan kesakitan ditujah kepala kote Abang N. Terasa besar dan sendat walaupun dinding faraj mula mengembang. Aku menolak semula dada Abang N. Aku merasa tidak selesa dengan kesendatan dan kepadatan batang Abang N dalam lubang farajku. Aku dapat merasakan denyutan kepala kote dan batang Abang N ke dinding farajku.

Abang N menghembus wajahku.. "Rileks sayang.. Ika take a nap sekejap.. Mula-mula memanglah sakit.. Dont worry sedap it wont kills you."

Aku senyum dan sudah tidak malu tubuhku bogel dengan lelaki yang bogel memeluk aku. Sudah menjelajah tubuhku dan sudah mula masuk ke dalam kewanitaanku.

"Khayal dan asyik Bang.. Sedap dan geli Abang jilat dan hisap," kataku perlahan kepada Abang N. "Abang lick and suck my clit.. Plzz"

Sekali lagi Abang N menyembamkan mukanya ke cipapku dan menjulurkan lidahnya untuk melakukan permintaanku. Bila rentak jilatannya maju dari pelahan ke kuat, aku mengelinjang, kepalaku ke kiri dan ke kanan menahan nikmat yang menyerata tubuhku. Aku menjerit-jerit dan mengerang.. Dalam pada itu tanpa kusedari Abang n memasukkan zakarnya. Lubang cipapku dapat menerima zakarnya..

"Aduhh.. Sedapp.. Sakitt.. Sedapp bangg N.."

Dan Abang N mula menghenjut zakarnya dengan tujahan yang perlahan dan kuat. Aku terjerit-jerit dan melihat cadar katil ditompoki darah merah yang segar.. Persetubuhan kali ketiga sebelum subuh itu menghilangkan daraku dimakan oleh zakar Abang N yang besar, panjang dan keras. Apa hendak kukata.. Aku bukan lagi anak dara. Tiada apa yangmahu kukesali, sebab aku yang mahukan.

Barulah aku tahu kenapa dan mengapa Sofia suka dan idak dapat menceritakan rasa hatinya. Kin i aku faham sebab aku sudagh merasakan zakar di dalam kewanitaanku. Memang sedap dan lazat. Bila siang aku idak ke tempat kerja. Aku pohon cuti emergency dan siang itu aku digerudi oleh Abang N semaksimanya. Kami sama-sama fuck each other hearts out. Biarpun puki ku rabak dan pedih bila terkena kencing atau air, namun aku mahu difuck oleh Abang N. Aku merasakan nikmat klimaks yang amat sangat. Dan bermulalah pembelajaran bersetubuh yang menakjubkan dengan Abang N..

"Ni rahsia kita berdua Ika, Not even Sofia mesti tahu. Nanti susah implikasinya ok," Abang N menasihatkan.
"Yes Bang I tahu. Too bad you dapat kami berdua masih virgin, but frankly I am happy.." kataku memeluk Abang N manja sambil menghisap puting kecil dadanya. Abang N kegelian.

Abang N ketawa kecil.

"Love both of you. Tapi you banyak kena belajar."
"Yess I mahu belajar Bang."
"Sofia sudah pandai.."
"Ika pun nak pandai dan bijak menjaga keperluan sex lelaki Bang," kataku bangga.
"You will my dear Ika, we will do it and fuck each other dari masa ke masa.. Setuju?"
"Yerr bangg.. Fuck me again.. Fuck me again bangg!" pohonku sambil meramas zakar Abang N yang lentok terkulai.

Aku tahu petang nanti Abang N akan bertemu Sofia dan bersama dengan rakan akrabku itu.. Dalam hal ini aku yang kena pandai menyimpan rahasia.

9 Tahun


Masih ingat pengalaman pertamaku dengan pacarku Yati, pada "Kenikmatan Pertama"? Kali ini aku akan melanjutkan cerita nyata kehidupanku selanjutnya.

Setahun sejak peristiwa 14 November 1994, aku dan Yati masih berhubungan dan banyak menghabiskan waktu dengan pacaran dan menikmati indahnya cinta kami. Banyak sudah pengalaman seks kami mulai dalam kendaraan umum, di rumah temennya, tempat wisata, di hotel dan yang paling sering di rumahnya.

Pernah dalam kendaraan umum luar kota, kuremas payudara montok Yati dengan liar, tentunya tidak ada orang yang tahu dan tanganku sampai menyusup ke dalam celana dalamnya, dan yang paling hot adalah dia pernah "karaoke" dengan kontolku dalam bis itu hingga spermaku ditelan habis olehnya. Bahkan di kawasan wisata Tangkuban Perahu aku pernah berhubungan seks dengannya di rumah-rumah singgah bila kita lelah berjalan, hanya dengan membuka sedikit resluiting celana panjangnya dan masih berpakaian lengkap, kususupkan kontolku dalam memeknya, di tengah sejuknya udara Tangkuban Perahu. Sebuah pengalaman eksotis saat kami berhubungan seks dalam suasana yang tergesa-gesa di tempat terbuka.

Setelah aku lulus dari PT, hubunganku dengannya sedikit agak renggang, dia sering keluar kota ke tempat saudaranya dan aku yang kesepian dalam kesendirian tak tahu harus kemana, ini terjadi karena keluarganya kurang begitu bisa menerima diriku, hingga suatu hari aku yang sudah bekerja di sebuah perusahaan, mendapat telepon darinya, dia mengatakan ingin ketemu denganku, setelah disepakati kami bertemu di tempat kostku yang tak jauh dari kantorku.

Di kamar itu sejadinya dia menangis dalam pelukanku, dua bulan kami tak ketemu kerinduan di hati kami terasa sangat berat buat kami. Yang lebih sakit dari itu semua dia mengatakan bahwa dia sudah dilamar seseorang dan keluarganya sudah menerima lamarannya tinggal menentukan hari pernikahan mereka.

Siang itu aku sangat menghargai dirinya, meski sebenarnya aku sudah ingin melampiaskan hasrat seks yang sudah lama terpendam, namun kesedihannya membuatku urung untuk melakukannya. Kami hanya berciuman lama, dan saling memeluk dengan erat, kurasakan tubuhnya agak sedikit kurus dan pantatnya pun tidak begitu semontok dulu, tapi dengan rasa sayang aku tetap menguatkan dirinya dan kamipun memutuskan hubungan kami dengan baik-baik dan tetap menyimpan rasa cinta di hati kami masing-masing.

Pada tahun 1997 dia menikah dengan orang lain dan saat ini di tahun 2003 aku baru mendengar bahwa dia sudah mempunyai seorang anak dan akupun sudah menikah. Lewat telepon di kantor aku mengobrol banyak dengannya, mengenang masa lalu, kulihat ada kebahagiaan dalam dirinya, meskipun masih ada rasa rindu dalam hatinya, namun aku ikut berbahagia.

Suatu hari dia meneleponku di kantor dan menangis dalam telepon dia menceritakan ada masalah pribadi yang tak bisa ditanggungnya sendiri, aku hanya diam mendengarkan sambil sedikit memberikan advise buatnya, dua jam lebih kami ngobrol di telepon, hingga dia sedikit terhibur dan sudah bisa tertawa mendengar gurauanku.

"Mas, kita ketemu yuk, aku rindu sekali sama kamu", katanya pada akhir pembicaraan di telepon itu.

"Boleh, tapi tidak bisa sekarang aku lagi sibuk di kantor, nanti aku hubungi HP-mu ya, kita ketemu di Bandung-nya dimana?, saat ini aku tidak di kota Bandung, tapi sudah bekerja di Jakarta".

"Terserah kamu deh Mas", aku tersenyum sambil mengenang masa pacaran kami dulu.
Saat itu kebetulan aku ada rapat di Bandung, jadwal tiga hari selesai cuma satu setengah hari, aku memutuskan berpisah dengan rombongan dan menginap di sebuah hotel di Jalan Setiabudi kota Bandung. Kutelepon HP Yati dan kami janjian ketemu di Gramedia Jln. Merdeka, kutunggu di lantai 2 sambil melihat-lihat buku.

Lima belas menit berlalu, kulihat jam masih pukul 9.15 pagi, kami janjian pukul 9 pagi. Tiba-tiba dari eskalator kulihat seorang perempuan yang tak asing buatku, namun wajahnya sudah sangat berubah, rambutnya yang dulu panjang terurai, kini lebih pendek hanya sebatas bahu, mengenakan paduan rok dan baju senada warna kuning sungguh sangat cantik sekali bekas pacarku ini.

Kulitnya yang putih mulus masih terpelihara, badannya agak sedikit berisi dibanding dulu, dadanya kulihat lebih membusung, pantatnya masih montok seperti dulu, satu hal yang pasti betis indahnya masih putih dan sangat merangsang.

"Apa kabar Mas?, katanya perlahan sambil tersenyum dan menjabat lembut tanganku

"Kabar baik, kamu kelihatan lebih cantik sekarang", kataku sambil tersenyum dan menjabat erat tangannya, hmm masih mulus seperti dulu, batinku.

Wangi tubuhnya tak berubah, sungguh aku seperti orang yang jatuh cinta lagi dan terbawa kembali ke masa lalu yang indah.

"Kita makan dulu yuk?", ajakku kepadanya sambil memegang bahunya.

"OK, dimana?"

"Di sebelah aja, Hanamasa, ok?"

"Iya deh, jawabnya ringan.

Menuju ke tangga turun, kurangkul bahunya dan setelah jalan datar, kurangkul pinggangnya dan kulihat dia tersenyum malu menatapku, pinggangnya masih ramping seperti dulu.

"Kamu rajin fitness ya?", tanyaku sambil jalan.

"Emangnya kenapa?"

"tidak, badan kamu masih langsing dan berisi seperti dulu waktu pacaran", kataku sambil senyum.

"Ih, ingat lho kita sudah punya anak!" katanya sambil mencubit perutku, kupegang dan kuremas tangannya.




Sambil makan, kami banyak bicara dan ngobrol tentang kehidupan kami masing-masing dan sesekali kami mengobrol tentang masa lalu kami yang indah.

"Mas kamu kelihatan lebih dewasa dan matang sekarang, aku jadi kagum dengan perubahan kamu"

"Ah masa, kayaknya biasa aja, mungkin karena tuntutan pekerjaan harus seperti ini kali, yang pasti kayaknya aku lebih matang lagi di ranjang, he.. he.. he.."

"Ih, beraninya, kayaknya untuk urusan yang satu ini kamu tidak berubah deh", katanya sambil tersenyum galak.

Sejujurnya, aku tidak ingin mengulangi masa lalu, namun kerinduan dan suasana romantis yang ada membuat kami jadi sama-sama lupa dengan status kami sekarang.




"Kita kemana nih?", tanyaku sambil bersiap-siap keluar dari Hanamasa.

"Terserah kamu aja deh, tapi aku masih ingin ngobrol banyak sama kamu soal kemarin di telepon, cuman aku hanya bisa sampai jam empat sore aja", katanya.

"OK, kita naik taksi aja ya? kita ke hotelku aja di Jalan Setiabudi", ajakku.

Kulihat dia agak bingung, antara ya dan tidak, tapi ada rasa ingin dalam dirinya. Dalam keraguannya kupeluk pinggangnya dan kuajak masuk ke taksi yang sudah kustop di pinggir jalan.




Dalam taksi kami lebih banyak diam. Kuberanikan meremas tangannya dan tiba-tiba dia merapatkan duduknya mendekatiku dan menyenderkan kepalanya di dadaku. Sesudah kubayar taksi, kami masuk ke kamar hotel, lewat room service, kupesan dua jus alpukat kesukaan kami waktu masih pacaran dulu.




Sambil duduk dan menonton TV, kami mengobrol seputar kehidupan kami sekarang, dan diapun menceritakan masalah keluarga yang dihadapinya. Aku sangat memahami kesedihan dan kebingungannya, akhirnya di kamar hotel itu aku banyak memberikan nasehat untuknya dan diapun tiba-tiba duduk di sampingku dan memelukku sambil menangis.




Ting-tong, bel kamar berbunyi, kubuka pintu dan kubawa masuk jus alpukat pesananku. Kutarik tangan Yati, dan sambil berdiri kupeluk dirinya, diapun membalas pelukanku, kurasakan dadanya terasa hangat, perlahan kuangkat dagunya kukecup lembut bibirnya kemudian kening dan matanya yang terpejam kukecup juga, sesaat ujung hidungnya kukecup perlahan hingga bibirku kembali menyapu bibir lembutnya, ciuman bibir yang sudah lama tidak kami lakukan, seolah ingin kami lampiaskan dengan penuh gelora siang itu, bibirnya kulumat habis dan lidah kamipun beradu dengan dahsyatnya, sedotan dan pagutan bibir kami mengingatkan saat kami berpacaran dulu.




"Mas, kamu masih ingat kejadian tanggal 14 November dulu?", katanya dengan mata sendu dan bibir yang merekah.

"Saputangan biru bekas kesucianmu masih kusimpan sampai hari ini, aku masih menyimpan tanda cinta kita, sayang".

"Aku merindukanmu siang malam mas, aku selalu teringat semua kenangan yang pernah kita jalani, tapi hanya untuk hari ini saja aku mohon padamu mas, sirami aku dengan cintamu mas, hilangkan sejenak haus cinta dan rinduku mas, hari ini aku milikmu mas", Yati perlahan membuka baju yang kupakai, kancing kemejaku terlepas dan kupandangi Yati dengan penuh rasa cinta, diusapnya dadaku.

"Kamu kelihatan lebih seksi sekarang, mas".

Perlahan pula kubuka baju kuning-nya, bahu itu masih sangat mulus dan tahi lalat kecil diatas payudaranya masih terlihat seperti dulu, tubuh putihnya perlahan kuusap, BH krem yang dikenakannya nampak begitu kecil untuk menahan payudara montok-nya, sembulan payudaranya yang begitu membangkitkan gairah.

"Kuakui kamu sekarang tampak lebih menarik dan lebih montok".




Kukecup bahunya perlahan dan kususuri leher putihnya dan kucium belakang telinganya, Yati nampak begitu pasrah, sambil tangannya memeluk pinggangku. Tanpa tergesa-gesa, aku ingin memberikan foreplay yang menyenangkan baginya, sambil kucium bibirnya, tanganku meraba pantatnya dan kurasakan pantatnya yang lebih menantang dan pinggulnya kelihatan sekel dan berisi, rok yang dikenakannya perlahan kubuka, hingga Yati hanya tersisa memakai sepasang BH dan celana dalam seksi yang hanya menutupi gundukan vaginanya.




Perlahan kembali kujilati bahu dan belakang telinganya, menyusur ke bawah sambil perlahan kubuka pengait BH yang dipakainya, kelihatannya payudaranya yang lebih besar dibandingkan dulu tapi masih kelihatan kencang dan tegak, mungkin karena fitness dan senam yang dilakukannya.




Tanpa kuremas terlebih dahulu, kujilati sekeliling payudara montok-nya perlahan dengan sapuan lidahku, dari pinggir hingga memasuki ke area tengahnya, sebelum menjilati putingnya, kupindahkan sapuan lidahku ke payudara sebelahnya, kulihat Yati merem melek dan mendesis menikmati jilatanku.




Sambil kujilati putingnya yang sudah tegak, tanganku yang satunya meremas dan membelai payudaranya yang terasa kenyal, hangat dan mengencang, Yati kelihatan makin tak bertenaga, matanya meredup dan bola matanya nanar dan kelihatan berair.




Sambil kujilati pentil dan kuremas payudaranya, kuturunkan celana dalam Yati dan kemudian pinggulnya kupeluk dan kugendong Yati, pinggul montoknya kuangkat dan kupeluk pantatnya serta kubaringkan ke atas ranjang.




Tubuh Yati yang montok itu kuciumi lembut, mulai dari bahu turun ke payudara agak lama, kuhisap pentil yang sudah mengeras dan kuteruskan ke perut, pinggul dan kuputar serta kujilati pantatnya yang putih, mulus dan sangat sekel itu. Sedikit kusibakkan jembut hitamnya dan kubuka pelan bibir vaginanya, rupanya sudah sangat basah sekali, pelan kusibakkan jembutnya dengan bibirku dan lidahku mulai menjelajah bukit venusnya, kelentitnya kujilat pelan dengan ujung lidahku. Foreplay di titik ini kulakukan agak lama hingga pinggul dan pantat Yati bergerak-gerak hot sekali.




Aku tiduran di sampingnya, sementara bibirku mencium bibirnya, kulumat habis dan kusedot bibirnya dengan pelan tapi mantap, Yatipun membalas ciumanku dengan ganas. Tanganku meraba dan meremas kedua payudara montoknya dan selanjutnya kusedot pentilnya yang masih mengeras, sementara tanganku bergerilya ke arah vaginanya dan kuraba kelentitnya dengan ujung jari telunjukku.




Mulutku masih bergerilya dengan lidah menjelajah bukit kembarnya dan menyedot pentilnya, sementara ujung telunjukku memutar perlahan membentuk lingkaran kecil mengelilingi kelentitnya. Yati menggelepar dan mengangkangkan pahanya lebar-lebar hingga vaginanya terkuak lebar, kepalanya menengadah keatas, tangannya ada disamping kepala dan meremas sprei tempat tidur, tiba-tiba kurasakan pahanya bergetar hebat dan sambil terpejam mulutnya mendesis.




"Hhhss.. maas enak sekali, rasanya mau pipis Mas.. ohh, Mass, Mass.. Mass.."

Ada sekitar tiga menitan Yati menggelepar dengan hot dan berteriak merasakan kenikmatan pertamanya, hingga akhirnya terdiam dan mencium bibirku

"Mas, kurasakan dari awal, sentuhanmu begitu lembut dan jantan, setiap jengkal pori-poriku merasakan kenikmatan yang tiada tara, kamu sekarang lebih pandai dan jantan sayangku", katanya sambil mengusap rambut dan dadaku.

"Sekarang giliranmu Mas, aku akan memberikan kenikmatan buatmu sayang", kata Yati sambil bangun dari tidurnya.




"Oh, aku sudah merasakan orgasme, tapi kamu masih pakai celana, kamu jahat ya..", Kata Yati sambil menarik ke bawah celana dalamku yang tak muat menutupi kontolku yang sudah berdiri kaku dari tadi.

"Mas, perasaan kontolmu sekarang lebih besar ya dulu aku masih ingat sepertinya etidak segede ini, katanya sambil membelai dan menarik kontolku yang sudah mengeras dan kaku".

"Sekarang kamu duduk bersender di sini Mas", kata Yati sambil memasang bantal untuk senderan punggungku, aku duduk dengan membuka pahaku lebar-lebar, sementara kontolku sudah berdiri tegak dan kokoh seperti tugu monas. Memang kuakui kontolku agak lebih besar dibandingkan dulu, sembilan tahun yang lalu, banyak yang kulakukan untuk menguatkan otot-otot kemaluanku dan kekerasannyapun kurasakan lebih keras dibandingkan dulu.




Tangan lembut Yati mulai menggenggam lembut kontolku, jari-jemarinya kemudian menari mengikuti urat-urat yang menonjol sepanjang batang kemaluanku, tiba-tiba pangkal kemaluanku ditekan dengan ibujarinya dan kurasakan darah mendesir di batang kontolku, serr.. serr.. serr rasanya nikmat sekali, baru kali ini kurasakan pijatan wanita yang sangat nikmat.




Dengan posisi didepanku, Yati mulai menjulurkan lidahnya mengikuti batang kontolku yang masih tegak menantang dan kemudian dihisapnya helm kepala kemaluanku yang merah mengkilat, perpaduan antara hisapan dan jilatan benar-benar merangsang dan memberian sensasi kenikmatan yang luar biasa.




Sementara tanganku tak tinggal diam, kuremas dan kuraba payudara montoknya, sesekali remasanku agak keras hingga tubuh Yati menggelinjang. Kenikmatan oral seks yang disuguhkan Yati benar-benar membuat darahku berdesir-desir, sedikit ngilu namun enak sekali, jilatan lidahnya masih menari-nari dengan lincah, dan yang paling sensasional adalah saat lidahnya menjilat antara pangkal kemaluanku dan anus, dimana ada gAris yang agak jelas, disitu titik yang sangat memberikan sensasi kenikmatan, dijilatinya sepanjang gAris penghubung itu dengan ujung lidahnya dan efeknya kemaluanku seperti melonjak-lonjak dan mengeras tegang sekali. Kuperkirakan sekitar lima belas menit aku merasakan kenikmatan seperti jika kita naik jetcoaster naik turun dan berdesir merasakan kenikmatan.




Yati kemudian terduduk dan pinggulnya kuangkat hingga posisinya duduk berhadapan denganku, dan kuposisikan kontolku yang sudah tegak berdiri keras sekali ke mulut vaginanya yang sudah membasah, dan akhirnya perlahan-lahan

Bless.., turun sedikit demi sedikit, seinchi demi seinchi batang kontolku ditelan memeknya yang legit, berlendir, hangat dan memcengkeram batang kontolku yang membesar, hingga akhirnya seluruh batangku tenggelam dalam remasan memek legitnya.




Yati mendiamkan sejenak batangku di memeknya, tiba-tiba kurasakan empot-empot dari memeknya mencengkeram batang kemaluanku, sungguh nikmat sekali, kurasakan darah mendesir di batang kemaluanku.

"Mas, kontolmu enak sekali, kurasakan ada yang mengalir di batangmu, seperti air mengalir", Kata Yati sambil duduk di atas batangku.

Akhirnya Yati mulai menaikkan dan menurunkan pantatnya, hingga batangku seperti dilingkari gelang-gelang yang hangat dan mencengkeram batangku. Kadang perlahan, kadang cepat dan dilain waktu didiamkan diempot-empot memeknya. Ada kurang lebih duapuluh menit Yati naik dan bermain di atas kontolku, sementara tanganku meraba dan meremas payudaranya yang terasa makin keras dan kenyal sekali dengan putingnya yang mengeras.




Tiba-tiba, Yati bergerak naik turun sangat cepat sekali, batang kontolku seperti diremas-remas dan dibenamkannya hingga tenggelam habis seluruh batang kontolku dalam memeknya.

"Ohh.. ohh.. ohh, Mmmaass akuu keluaar lagi sayaang", Yati memelukku erat sekali, kepalanya menyender di bahuku dan kurasakan batangku seperti diremas-remas dengan keras sekali dan kurasakan ada kehangatan di dalam memeknya.




"Mas, kamu sungguh hebat sekali, dua kali aku merasakan orgasme yang nikmat sekali, aku mencintaimu sayang, aku sayang kamu Mas", kata Yati sambil terkulai memelukku erat sekali, sementara aku belum merasakan tanda-tanda akan orgasme, dan kontolku masih tegak berdiri keras di dalam memek legitnya.




"Kamu capek ya?", tanyaku.

"Sekarang kamu dibawah ya, aku akan membawamu kembali ke puncak kenikmatan sayang", kataku sambil mengangkat pantatnya dan menidurkan Yati diatas ranjang itu.

Kubuka paha Yati, dan kelihatan bibir vaginanya kelihatan sedikit terkuak dan membengkak kemerahan setelah kumasuki dengan batang kemaluanku. Perlahan pahanya kubuka dan Yati mengangkangkan pahanya keatas hingga terlihat lubang memeknya menggunung menantang seperti serabi imut. Kuarahkan batangku ke arah memeknya dan kelihatannya batangku membelah bibir memeknya yang kelihatan sempit menjepit batang kontolku.




Bless.., perlahan kumasukkan batang kontolku, dengan vAriasi irama kadang masuk setengah, keluar, masuk penuh, keluar dan seterusnya mengikuti irama yang konstan sekitar sepuluh menitan lamanya. Tiba-tiba Yati menurunkan kangkangan pahanya ternyata dia menjepit pinggulku dengan kedua kakinya, seakan meminta kontolku untuk dimasukkan sedalam-dalamnya. Kurasakan kontolku berdenyut-denyut seperti akan memuntahkan sperma, kudorong dengan geRakan yang agak cepat, ada sekitar sepuluh sampai duabelas keluar masuk, tiba-tiba CROOT.. CROOT.. CROOT..




"Ooohh.. Mass.. akku.. keluuaar.. laggii..", Yati berteriak keras sekali sambil meremas sprei dan menutup matanya.

Aku mendaratkan tubuhku memeluk tubuh Yati yang terlentang dan kurasakan tetesan spermaku masih mengalir di dalam memeknya, sungguh kenikmatan rruarr biasa, bersamaan kita merasakan orgasme, aku baru yang pertama dan Yati sudah ketiga kalinya. Kulepaskan batangku dari dalam memeknya, kulihat banyak sekali cairan menempel di batangku, campuran antara spermaku dan cairan vaginanya.




Sambil berbaring, Yati menyenderkan kepala di dadaku, rambutnya kubelai perlahan, sambil kupeluk erat hangat tubuhnya, keringat di badan kami mulai membasahi sprei dan ranjang tempat tidur berantakan seperti kapal pecah.

Kuambil jus alpukat di meja, kuminum setengahnya dan setengahnya kuberikan buat Yati, bibirnya kelihatan berkumis jus alpukat, sambil kupeluk, "kumis" jus alpukatnya kulumat habis dan Yati tersenyum memandangku.




"Mas, aku benar-benar makin kagum padamu, perpaduan antara kelembutan dan kejantanan yang kau berikan sungguh tak terbayangkan, emang bener kamu sekarang lebih matang di ranjang", katanya sambil melap batangku yang basah.

"Kamu juga hebat, memeknya masih legit dan jurus empot ayam yang kamu punya, sungguh istimewa sekali, belum lagi ilmu 'karaoke'mu yang makin merdu saja he he he", kataku sambil memencet hidung kecilnya.

"Kita mandi yok?", kata Yati sambil memeluk perutku.

"OK, kita mandi bersama di bathtub seperti dulu", ajakku sambil menggendong tubuh seksinya menuju kamar mandi hotel.




Siang menjelang sore itu, kami mandi bersama dalam bathtub. Kusabuni dan kumandikan tubuh mulusnya dan diapun menyabuni seluruh tubuhku dengan lembut. Aku sedikit terangsang, batangku kembali tegak berdiri dan dengan sabun tangannya mengocok batangku, hingga aku mengalami orgasme sekali lagi.




Selesai mandi, kami keringkan badan kami, hanya dengan balutan handuk kami masih melanjutkan obrolan kami hingga waktu sudah menunjukkan jam 15.30 sore. Setelah berpakaian, kuantarkan Yati dengan taksi sampai dekat rumahnya, sebelum turun dia mengecup bibirku dan berbisik perlahan, "Aku sayang kamu". Diapun turun dan melambaikan tangan padaku, kubalas, dan taksipun kembali ke hotel. Sore itu juga aku berkemas dan menuju stasiun pulang ke Jakarta, hari yang indah telah kulalui.